Selasa 10 Apr 2018 09:40 WIB

Jack Ma Minta FB Segera Selesaikan Masalah Privasi Data

Ma yakin Facebook bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Indira Rezkisari
Pendiri perusahaan Alibaba, Jack Ma.
Foto: AP
Pendiri perusahaan Alibaba, Jack Ma.

REPUBLIKA.CO.ID, BOAO -- Pendiri raksasa niaga-el Aliaba, Jack Ma, mendesak Facebook Inc untuk menyelesaikan masalah privasi data penggunanya. Hal ini disampaikannya dalam Forum Boao untuk Asia di Provinsi Hainan Selatan.

"Manajemen senior (Facebook) harus bertanggung jawab," ujar Ma dilansir Reuters, Selasa (10/4).

Ma mengatakan, sekitar 15 tahun lalu mungkin Facebook tidak akan pernah mengira kebocoran data ini akan terjadi. Seiring dengan kemajuan teknologi, makin banyak orang yang menggunakan Facebook. Semua masalah yang tidak disadari pun mulai muncul. Ma optimistis, Facebook dapat menyelesaikan persoalan ini dengan baik.

"Saya pikir masalahnya akan terpecahkan. Kita tidak boleh membunuh perusahaan karena masalah ini. Solusi yang penting adalah Anda menghormati data, Anda menghormati keamanan data, dan anda menghormati privasi," kata Ma.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengaku telah melakukan kesalahan besar karena menyepelekan masalah keamanan para pengguna yang jumlahnya mencapai 2 miliar. Ia mengakui perusahaannya tak melakukan pencegahan yang cukup agar data-data pengguna tak disalahgunakan.

Baca juga: Kebocoran Facebook di Indonesia Belum Tentu Disalahgunakan

"Itu adalah kesalahan saya dan saya minta maaf. Saya memulai Facebook, saya menjalankannya, dan saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sini," ujar Zuckerberg.

Kasus pencurian data ini mencuat setelah sebuah perusahaan data yang terkait kampanye Donald Trump, yakni Cambridge Analytica, mengumumkan bahwa mereka memiliki akses ke data pada 87 juta pengguna Facebook. Perusahaan itu diketahui menyedot data pribadi dalam jumlah besar dari pengguna Facebook melalui kuis-kuis.

Tak hanya pengguna yang mengikuti kuis, Cambrigde Analytica juga mengambil data dari teman-teman mereka. Hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan pemilik akun. Data-data itu digunakan untuk membuat berita palsu dan ujaran kebencian selama pemilihan umum.

Zuckerberg mengakui itu adalah kesalahan fatal. Perusahaannya tak memiliki pandangan yang luas tentang tanggung jawab perusahaan terhadap data pengguna. Ia pun menyiapkan sejumlah rencana untuk mencegah kejadian serupa terjadi pada masa mendatang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement