Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Mencicipi Burger dengan Daging Palsu Lezat dalam Penerbangan

Jumat 06 Jul 2018 11:21 WIB

Red: Nur Aini

Hidangan burger.

Hidangan burger.

Foto: EPA
Daging burger terbuat dari bahan nabati seperti kacang lentil dan kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Maskapai milik Selandia Baru, Air New Zealand telah menjadi maskapai penerbangan pertama di dunia yang menyuguhi penumpangnya 'Burger Impossible'.

'Burger Impossible' adalah sebutan burger dengan daging palsu yang dijual di restoran mewah lengkap dengan warna darah dari buah bit. Burger tersebut mendapat dukungan dari pesohor Bill Gates.

Apa itu daging palsu dan apakah rasanya enak? Untuk bisa menikmatinya kita perlu pergi ke Amerika Serikat.

Shalailah Medhora, repoter ABC untuk program Hack dari radio Triple J, bersama pacarnya yang kebetulan vegan mendapat kesempatan antre untuk mendapatkan 'Burger Impossible'. Daging palsu terbuat dari kacang lentil dan kacang kedelai. Keduanya bukanlah daging percobaan yang dihasilkan di laboratorium.

Produk-produk seperti Impossible Burger, Beyond Burger, dan Bleeding Burger, yang berasal dari Inggris, benar-benar beda. Terbuat dari kombinasi protein berbasis tanaman, ekstrak ragi, getah tanaman, rempah-rempah, dan bumbu masak yang dirancang dengan baik.

Ketika Impossible Burger membuat debut internasionalnya pada April, seorang chef asal Hong Kong mengatakan "rasanya sama saja dengan daging lain". Industri daging palsu telah menarik investasi besar dari orang-orang seperti Bill Gates serta kapitalis ventura asal Silicon Valley di Amerika Serikat lainnya. Tapi tentu ini semua tidak berarti apa-apa, jika rasanya tidaklah enak.

Di sebuah kedai burger di kawasan Union Street, San Francisco, Amerika Serikat, Shalailah Medhora dan pacarnya, Michael, memesan Impossible. Dengan harga sekitar 20 dolar AS, atau lebih dari Rp 280 ribu, mungkin terdengar mahal tapi tidaklah untuk ukuran San Francisco, salah satu kota paling mahal di Amerika Serikat.

'Dagingnya' agak hangus dan berkerak persis seperti daging sungguhan, tapi sebenarnya karena sedikit mengandung minyak kelapa.

Tidak seperti 'daging' untuk vegetarian lainnya, Impossible burger memiliki tekstur berserat yang sama dengan daging sungguhan, terlihat seperti daging cingcang.

Michael adalah seorang vegan. Dia tidak makan daging dalam 10 tahun dan setelah mencicipinya membawa ia kembali pada kenangan yang terlupakan, "bagaimana rasanya burger McDonald's". "Ini sedikit menggelikan," katanya.

Sementara Shalailah, adalah pemakan daging sejati, dan ia dapat merasakannya "bukan 100 persen daging, tapi nyaris sama." "Saya akan memakannya lagi," ujarnya.

Pekan ini, Air New Zealand mengumumkan akan menyuguhi Impossible Burger untuk penumpang kelas bisnis jalur penerbangan Los Angeles - Auckland.

Lain halnya dengan 'daging' yang terbuat dari kacang garbanzo, yang di Australia disebut 'chickpea' , 'daging' yang dibuat burger Impossible ini tidak semata-mata ditujukan untuk kaum vegan dan vegetarian. Burger itu juga bagi mereka yang ingin mencoba berhenti makan daging tanpa harus mengorbankan rasanya.

'Daging' burger Impossible hanya butuh lima persen dari tanah dan seperempat air yang digunakan untuk daging burger dari sapi sungguhan dan hanya menghasilkan seperdelapan gas rumah kaca. Temuan itu berdasarkan perusahaan yang membuatnya.

Keputusan Air New Zealand untuk menyuguhkan 'daging palsu' ini telah dikritik oleh industri daging sapi dan domba. Mereka melihat 'daging palsu' sebagai ancaman.

Menteri Pertanian Australia, Damien O'Connor mengatakan ia tidak pernah makan burger yang terbuat bukan dari daging, tapi ia ingin mencobanya, "karena perlu tahu apa yang ada."

Bulan Juni lalu, saat salah satu supermarket terbesar di Australia meluncurkan daging nabati, para peternak dan pelaku industri daging merasa tidak senang. Begitu pula dengan PartaiiNasional, termasuk pemimpinnya Michael McCormack, yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Australia.

"Daging cingcang adalah daging," katanya kepada ABC.

"Ini adalah penafsiran saya soal apa itu daging cingcang."

Meskipun dalam kemasan disebutkan kandungan daging adalah 100 persen berbasis tanaman, Federasi Petani Nasional di Australia mengatakan hal ini tidaklah cukup jelas.

Sementara di sejumlah negara, seperti Prancis misalnya, telah melarang kata-kata 'daging' untuk makanan pilihan bagi vegetarian dan vegan, yang berarti daging burger yang terbuat dari buah bit harus mendapat sebutan lain.

Daging dari bahan nabati dijual di bagian daging

Terlepas petani suka atau tidak, warga Australia kini lebih sedikit mengkonsumsi daging. Pada 2016, 11 persen warga Australia, atau sekitar 2,1 juta orang memiliki pola makan vegetarian atau hampir vegetarian. Angka itu naik 2 persen dalam empat tahun.

Data dari Euromonitor International menunjukkan pangsa pasar makanan bagi vegan dan vegetarian di Australia diperkirakan mencapai 215 juta dolar Australia, atau lebih dari Rp 2,1 triliun Dalam sebuah pernyataan, supermarket Woolworths menegaskan daging dari bahan nabati mendapat sebutan 'daging cingcang' dan sama-sama disimpan di bagian daging.

Produsennya, Funky Foods, merasa yakin dengan menempatkan produk nabati di bagian daging akan membuat lebih mudah bagi konsumen untuk mencobanya. "Tujuan kami adalah menyediakan 100 persen makanan nabati yang rasanya luar biasa untuk semua kalangan."

Seorang juru bicara Coles, supermarket besar lainnya di Australia, mengatakan telah mencatat pertumbuhan yang meningkat produk-produk nabati di bagian makanan beku, termasuk 'daging burger' dan 'daging' dari nabati lainnya.

"Kami telah melihat permintaan yang tumbuh secara signifikan untuk produk vegetarian dalam 12 bulan terakhir," katanya.

Artikel ini telah disadur dari disunting dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2018-07-06/mencicipi-burger-daging-palsu/9945338
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA