Selasa 31 Jul 2018 18:20 WIB

Cuaca Ekstrem Bunuh 300 Orang di Jepang

Suhu panas di Jepang tercatat yang tertinggi sepanjang sejarah.

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nur Aini
Seorang perempuan mengusir panas dengan kipas portable di Tokyo, Senin (23/7). Jepang sedang dilanda panas ekstrem dengan suhu mencapai 41 derajat Celcisu.
Foto: AP Photo/Koji Sasahara
Seorang perempuan mengusir panas dengan kipas portable di Tokyo, Senin (23/7). Jepang sedang dilanda panas ekstrem dengan suhu mencapai 41 derajat Celcisu.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Sebanyak 300 warga di Jepang tewas sepanjang Juli tahun ini akibat cuaca ekstrem yang terjadi di negara tersebut. Pemerintah Jepang mengatakan, suhu panas yang melanda Negeri Sakura saat ini menjadi temperatur paling tinggi dalam sejarah.

Seperti diwartakan Anadolu Agency yang mengutip sumber berita lokal, Selasa (31/7) Badan Penanggulangan Bencana dan Situasi Darurat Jepang melaporkan, cuaca ekstrem itu juga telah menyebabkan ribuah warga lainnya dilarikan ke rumah sakit hanya dalam kurun waktu satu bulan.

Badan Penanggulangan Bencana dan Situasi Darurat Jepang mengatakan, suhu di negara tersebut mencapai 40 derajat celcius. Mereka mengatakan, suhu serupa juga terjadi di seantero negara tersebut selama kurun waktu yang sama.

Lebih dari 200 kematian disebabkan oleh hujan deras dan banjir yang dipicu oleh gelombang panas yang memecahkan rekor. Sementara, sisanya terjadi karena masalah kesehatan terkait panas. Menurut kantor berita Kyodo, lebih dari 57 ribu orang mencari perawatan di rumah sakit antara 30 April dan 29 Juli.

Sebelumnya, hujan lebat yang berlangsung selama beberapa hari sempat menyebabkan banjir dan tanah longsor di Jepang barat daya. Peristiwa tersebut menyebabkan tewasnya 122 orang. Pejabat dan laporan mengatakan lebih dari 80 orang masih belum ditemukan, banyak dari mereka di daerah Hiroshima yang paling parah.

Pemerintah setempat telah membentuk gugus tugas untuk mempercepat pengiriman pasokan dan dukungan lain untuk pusat-pusat evakuasi dan penduduk di wilayah tersebut. Tetapi jalan-jalan yang terganggu dan transportasi darat lainnya telah menunda pengiriman, meningkatkan kekhawatiran akan kekurangan pasokan pangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement