Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Turki Perintahkan Penangkapan ke Lebih dari 100 Tentara

Jumat 11 Jan 2019 19:11 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Dua dari beberapa tentara pro-kudeta Turki yang kabur ke Yunani dibawa ke pengadilan di Alexandroupoli, Yunani.

Dua dari beberapa tentara pro-kudeta Turki yang kabur ke Yunani dibawa ke pengadilan di Alexandroupoli, Yunani.

Foto: Reuters
Operas penyelidikan di perluas ke provinsi-provinsi lain.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Turki memerintahkan penangkapan lebih dari 100 tentara dan mantan taruna atas dugaan memiliki hubungan dengan Fethullah Gulen.

Turki menuding Gulen mendalangi upaya kudeta pemerintahan Recep Tayyip Erdogan pada 2016. Gulen membantah keterlibatannya dalam upaya kudeta yang menyebabkan kematian 250 orang.

Kantor kepala jaksa Istanbul mengatakan mereka memerintahkan penangkapan 50 tersangka, enam di antaranya adalah perwira dan sisanya adalah taruna akademi militer yang dikeluarkan setelah kudeta.

Menurut jaksa, operasi penyelidikan juga diperluas ke provinsi-provinsi lain. "Di Provinsi Adana di bagian selatan Turki, jaksa penuntut memerintahkan penangkapan 52 prajurit lain, yang 42 di antaranya masih bertugas, dalam operasi yang dilakukan di 20 provinsi," tulis kantor berita pemerintah, Anadolu.

Baca juga, Erdogan: Akhir dari Organisasi Fethullah Gulen Sudah Dekat.

Laporan itu menyebutkan bahwa pejabat berpangkat kolonel, mayor, letnan dan perwira ditangkap terkait sambungan telepon dengan pihak yang memiliki hubungan dengan Gulen. Sebagian besar tersangka sudah ditahan.

Lebih dari 77 ribu orang telah ditahan sembari menunggu persidangan.  Sementara 150 ribu pejabat sipil, personel militer dan lainnya telah dipecat atau diskors dari pekerjaan mereka sebagain bagian dari aksi penindakan pascakudeta. Operasi cukup luas masih dilakukan secara rutin.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA