Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Pelaku Pembocoran Data Pengidap HIV di Singapura Ditangkap

Rabu 30 Jan 2019 15:06 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Indira Rezkisari

Mikhy K Farrera-Brochez, pria yang diduga telah membocorkan informasi medis penderita HIV AIDS di Singapura.

Mikhy K Farrera-Brochez, pria yang diduga telah membocorkan informasi medis penderita HIV AIDS di Singapura.

Foto: EPA
Pelaku diduga memiliki akses data lewat kekasihnya yang bekerja di lembaga Singapura.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Kepolisian Kentucky berhasil menangkap Mikhy K Farrera-Brochez (34 tahun) yang diduga telah membocorkan informasi pribadi dari 14.200 orang yang mengidap HIV Aids di Singapura. Brochez ditangkap di rumah ibunya di daerah Clark County, Winchester, Kentucky.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan bahwa Brochez telah membocorkan informasi pribadi dari 14.200 orang yang mengidap HIV secara daring. Catatan yang bocor tersebut menyebutkan bahwa sejak 1985 hingga Januari 2013 terdapat 5.400 orang Singapura yang mengidap HIV.

Sementara, jumlah orang asing di Singapura yang mengidap HIV mencapai 8.800 orang. Kebocoran data tersebut dilengkapi dengan data diri pribadi mulai dari nama, nomor identifikasi, nomor telepon, alamat, hasil tes HIV, dan informasi medis. Kementerian Kesehatan Singapur mengungkap, informasi tersebut dibocorkan oleh Brochez, seorang warga Amerika Serikat (AS) yang positif HIV dan tinggal di Singapura sejak 2008. Kepolisian Singapura langsung meminta bantuan asing untuk menyelidiki kasus ini.

"Kami mencari bantuan dari mitra asing kami dalam penyelidikan, kami tidak bisa mengomentari kasus ini lebih lanjut karena penyelidikan sedang berlangsung," ujar Kepolisian Singapura dilansir Channel News Asia, Rabu (30/1).

Juru bicara Kedutaan Besar AS di Singapura, Camille Dawson mengatakan, kedutaan tidak dapat mengomentari investigasi yang sedang berlangsung. Usai ditangkap, Brochez dibawa ke Pusat Penahanan Clark County. Dia dijadwalkan hadir di pengadilan distrik pada 18 Februari 2019 mendatang untuk menghadapi tuduhan pelanggaran pidana tingkat ketiga.

Sebelumnya, Brochez pernah dipenjara pada 2016 karena berbohong tentang status HIV-nya untuk mendapatkan izin kerja di Singapura. Selain itu, pada 2018 lalu dia dijatuhi hukuman 28 bulan penjara karena kasus penipuan dan narkoba. Pada April 2018, Brochez kemudian dideportasi dari Singapura.

Diketahui, Brochez menjalin hubungan dengan seorang lelaki berprofesi dokter di Singapura yakni, Ler Teck yang merupakan kepala Unit Kesehatan Masyarakat Nasional di Kementerian Kesehatan. Mereka mulai hidup bersama di Singapura pada 2008 sebelum akhirnya menikah di New York pada 24 April 2014.

Ler memiliki kewenangan untuk mengakses informasi pasien yang mengidap HIV dan bersifat rahasia. Ler diyakini tidak mematuhi kebijakan dan pedoman tentang dokumen rahasia tersebut. Dia kemudian mengundurkan diri dari jabatannya pada Januari 2014.

Pada Mei 2016, Kementerian Kesehatan mengajukan laporan kepada kepolisian setelah menerima informasi bahwa Brochez memiliki informasi rahasia pengidap HIV di Singapura. Kemudian, pada 22 Januari 2019, kepolisian menginformasikan Kementerian Kesehatan bahwa Brochez telah membocorkan data rahasia tersebut secara daring.

Brochez diketahui telah melakukan sejumlah penipuan. Ketika polisi menggrebek kediamannya di Singapura ditemukan sejumlah ijazah pendidikan palsu atas namanya. Ijazah palsu tersebut diantaranya gelar linguistik dari Universitas Vanderbilt, serta gelar master di bidang psikologi dan perkembangan anak dari Universitas Paris. Polisi juga menemukan paspor yang dikeluarkan oleh negara Bahama dengan nama Malatesta da Farrera-Brochez.

Brochez pernah memberikan presentasi dan berbicara di beberapa konferensi internasional sebagai akademisi. Dalam sebuah wawancara pada 2010 dengan surat kabar lokal, Brochez mengklaim bisa berbicara dalam delapan bahasa serta mengaku sebagai putra dari seorang profesor psikologi anak dan remaja yang terkenal di Inggris.

Surat kabar The Independent kemudian menghubungi seorang psikolog yang terdaftar di Inggris dan menanyakan tentang Brochez. Ketika itu, psikolog Inggris tersebut mengaku tidak mengenal Brochez.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA