Rabu 20 Feb 2019 19:07 WIB

Rusia Siap Respons Penyebaran Rudal AS di Eropa

Penyebaran rudal tersebut secara langsung menjadi ancaman serius bagi Moskow.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda
Ilustrasi Rudal
Foto: Foto : MgRol112
Ilustrasi Rudal

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya siap merespons rencana Amerika Serikat (AS) menyebarkan rudal nuklir jarak menengah di Eropa. Rusia, kata dia, tidak hanya akan membidik negara-negara tempat rudal itu dikerahkan, tapi juga AS. 

Dalam pidato tahunan State of the Nation yang disampaikan di Majelis Federal Rusia pada Rabu (20/2), Putin mengatakan negaranya tidak mencari konfrontasi dengan AS atau negara-negara Eropa. "Saya sudah mengatakan dan saya ingin mengulangi, dan ini sangat penting, saya ulangi secara khusus, bahwa Rusia tidak berencana menjadi yang pertama untuk mengirim rudal ke Eropa," katanya, dikutip laman kantor berita Rusia TASS

Namun dia mengetahui AS telah memiliki rencana tersebut. Putin menilai, jika AS benar-benar mengerahkan dan menyebarkan rudal di Eropa, hal itu akan memperburuk situasi keamanan internasional. 

Di sisi lain, penyebaran rudal tersebut juga secara langsung menjadi ancaman serius bagi Moskow. Sebab hanya dibutuhkan waktu 10-12 menit bagi rudal itu untuk menghantam daratan Rusia. 

"Ini adalah ancaman yang sangat serius bagi kami. Dalam hal ini kami akan dipaksa, dan saya ingin menekankan ini, kami akan dipaksa untuk membayangkan langkah-langkah tit-for-tat (strategi dengan konsep dasar pembalasan) dan asimetris," ujar Putin. 

Terkait hal ini, Rusia, kata Putin, masih terbuka untuk melanjutkan dialog tentang perlucutan senjata nuklir dengan AS. "Tapi kami tidak akan mengetuk pintu yang sudah tertutup lagi. Kami akan menunggu sampai mitra kami siap dan mengakui perlunya dialog tentang masalah ini atas dasar kesetaraan," ucapnya.

Rusia dan AS diketahui telah sama-sama menangguhkan keterikatannya dalam perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF). Perjanjian yang ditandatangani pada 1987 itu melarang kedua negara memiliki serta memproduksi rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer. 

Penangguhan keterikatan kedua negara dalam INF telah memicu kekhawatiran, khususnya dari Eropa. Sebab INF sudah dianggap sebagai fondasi keamanan Benua Biru. Ditangguhkannya INF juga menimbulkan kecemasan tentang potensi munculnya perlombaan senjata baru seperti era Perang Dingin. 

Kendati demikian, Rusia mengaku siap jika AS ingin menjalin perjanjian perlucutan senjata baru untuk menggantikan INF. Hal itu juga telah diisyaratkan Presiden AS Donald Trump. 

Namun, Trump tampaknya menghendaki agar perjanjian itu tidak hanya disepakati oleh AS dan Rusia, tapi juga negara lain, seperti Cina. 

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement