Senin 29 Apr 2019 09:36 WIB

Menanti Upacara Langka Penurunan Takhta Kekaisaran Jepang

Mereka pasangan kekaisaran Jepang pertama yang berlatar belakang akademisi.

Putra mahkota Jepang Pangeran Naruhito dan Putri Masako pada 9 November 2018. Pangeran Naruhito akan menjadi kaisar Jepang menggantikan ayahnya.
Foto: Kazuhiro Nogi/Pool via REUTERS/File Photo
Putra mahkota Jepang Pangeran Naruhito dan Putri Masako pada 9 November 2018. Pangeran Naruhito akan menjadi kaisar Jepang menggantikan ayahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Kaisar Jepang Akihito akan turun takhta pada Selasa (30/4). Akan diadakan sejumlah upacara langka dan sederhana yang menandai Putra Mahkota Pangeran Naruhito sebagai kaisar.

Terakhir kali Jepang menggelar upacara penurunan takhta pada 1817. Naruhito akan menjadi kaisar pada Rabu (1/5), tapi penobatannya akan dilakukan pada Oktober.

Upacara penurunan takhta itu akan dilakukan di Istana Kekaisaran di ruangan yang disebut Matsuno Ma atau Balai Pinus karena lantainya yang terbuat dari kayu. Matsuno Ma merupakan ruangan yang paling bergengsi di Istana Kekaisaran Jepang.

Sekitar 300 orang akan menghadiri upacara yang akan disiarkan di televisi nasional Jepang itu. Para bangsawan akan membawa segel negara dan rahasia bersama dua dari "Tiga Harta Karun" Jepang yang berupa pedang dan perhiasan.

Keduanya adalah cerminan dari simbol kekuasaan. Orang Jepang percaya benda-benda pusaka itu berasal dari mitologi kuno. Pedang Kusanagi di simpan di sebuah kuil di pusat Jepang dan perhiasan Yatano Kagami akan ditutup dalam sebuah kotak.

Dalam upacara pada Rabu itu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan mengumumkan penurunan takhta Akihito. Acara disusul pidato terakhir Akihito sebagai kaisar. Bersama anggota parlemen dan Mahkamah Agung, Permaisuri Michiko, Putra Mahkota Naruhito, dan istrinya, Masako, akan turut menghadiri upacara itu.

Pada 1 Mei Naruhito akan menerima takhta. Pengurus Kekaisaran meletakkan segel-segel kekaisaran bersama pedang Kusanagi dan perhiasan Yatano Kagami di meja di depan kaisar yang baru sebagai bukti kekuasaannya.

Upacara itu akan dihadiri kelompok kecil laki-laki dewasa anggota kekaisaran dan tiga badan pemerintah, yakni eksekutif, legislatif, dan yudisial. Termasuk Abe dan kabinetnya. Dalam upacara tersebut Akihito dan Michiko tidak hadir.

Upacara itu tertutup bagi anggota kerajaan perempuan. Tapi, Satsuki Katayama, satu-satunya perempuan dalam kabinet Abe akan menjadi perempuan pertama dalam sejarah modern Jepang yang menghadiri upacara tersebut. Setelah itu, Naruhito akan memberikan pidato pertamanya sebagai kaisar di Matsuno Ma.

Pada 4 Mei Naruhito dan Masako akan tampil pertama kalinya di hadapan publik. Ia akan menyapa orang-orang yang memberikan selamat di Istana Kekaisaran. Mereka akan tampil sebanyak enam kali dari pukul 10.00 pagi.

Kehadiran rakyat diperkirakan akan sangat banyak dalam acara untuk umum yang berlangsung selama 10 hari libur. Lebih dari 100 ribu orang hadir untuk melihat Akihito dan Michiko pada 1990.

Pada 22 Oktober akhirnya Naruhito akan dinobatkan secara resmi sebagai Kaisar Jepang. Upacara itu akan dihadiri pejabat tinggi lebih dari 200 negara. Seperti ayahnya, kaisar baru akan mengenakan jubah tradisional Jepang. Ia akan naik ke Takamikura, sebuah paviliun setinggi 6,5 meter yang beratnya sekitar delapan ton.

Naruhito akan duduk sebentar di sebuah kursi yang terbuat dari jerami tatami. Lalu, ia akan berdiri dan tirai paviliun terbuka. Naruhito akan mengumumkan takhtanya ke seluruh dunia. Pada 14-15 November Naruhito akan memberikan hasil panen padi dan sake untuk leluhur dan dewa.

Pemerintah Jepang sudah mengalokasikan 2,7 miliar yen atau 24 juta dolar AS untuk rangkaian upacara ini. Hal ini sempat mengundang perdebatan, apakah hal ini konstitusional. Alasannya karena negara mendanai acara yang melibatkan unsur-unsur agama yang sangat kuat.

photo
Putra Mahkota Jepang Naruhito bersama istrinya Masako di Tokyo, Jepang.

Tawarkan hal baru

Yang pasti, Jepang akan memiliki kaisar baru yang berbeda dari sebelumnya. Naruhito dan istrinya, Masako, menawarkan banyak hal baru.

Mereka pasangan kekaisaran Jepang pertama yang memiliki latar belakang akademisi, multilingual, dan berpengalaman tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Selama di luar negeri, Naruhito bahkan mencuci bajunya sendiri.

"Saya pikir ini kesempatan bagi generasi baru anggota keluarga kekaisaran untuk merangkul (rakyat) agar sedikit melampaui batasan yang selama ini diakui secara konvensional," kata pengamat dari Wilson Center, Shihoko Goto, Ahad (28/4).

Ia menambahkan, Masako yang berusia 55 tahun memiliki pengalaman menjadi seorang diplomat. Menurut Goto, pasangan ini memiliki latar belakang yang unik. "Dan mereka memiliki minat, saya yakin, dan memang mereka harusnya memiliki kemampuan untuk lebih terlibat," tambah Goto.

Goto menambahkan, pasangan ini juga lahir jauh setelah Perang Dunia Kedua. Saat itu, Kaisar Hirohito dianggap sebagai tuhan. Orang tua Naruhito, yakni Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko menjumpai rakyat Jepang, terutama untuk menenangkan mereka setelah terjadi bencana.

Keputusan Akihito untuk menurunkan tahtanya memicu perdebatan, apakah hal ini keputusan yang tepat atau tidak. Ia menjadi kaisar Jepang pertama yang menurunkan takhta sejak 200 tahun yang lalu.

Walaupun Naruhito berniat untuk meneruskan pekerjaan orang tuanya, ia juga mengatakan, monarki harus beradaptasi. Para pengamat mengatakan, hal ini dapat berarti ia berbicara lebih lantang dan menjangkau lebih banyak aspek, memperkuat nilai-nilai keluarga kekaisaran sebagai identitas Jepang.

"Mengingat zaman sekarang, keluarga kekaisaran harus menggunakan hal-hal semacam jejaring sosial untuk mengungkapkan opini mereka dalam batas tertentu, jika bukan kata-kata maka bisa foto di Instagram," kata psikiater dan penulis buku tentang perempuan di kekaisaran Jepang, Rika Kayama.

Kayama mengatakan, Naruhito mau berswafoto dengan orang-orang di luar negeri. Masako juga mungkin memiliki beberapa hal yang ingin ia katakan. Banyak orang yang menilai, Masako kesulitan menempatkan dirinya di kekaisaran. Karena hal itu ia tidak tampil di depan publik selama satu dekade.

Sementara, Michiko kerap dianggap 'tanpa catat' selama masa pengabdiannya. "Ketika Masako mengunjungi korban bencana alam, mereka merasakan ia melalui masa-masa yang sulit seperti mereka," kata asisten profesor sejarah Nagoya University, Hideya Kawanishi.

"Rasa syukur rakyat lebih dari saat memiliki permaisuri seperti Michiko. Dengan Masako mereka merasakan empati, jadi dia akan lebih dekat lagi," kata Kawanishi.

Dalam pesan-pesan ulang tahunnya Masako kerap mengungkapkan keprihatinannya kepada anak-anak kurang beruntung dan bermasalah. Ada kemungkinan dua isu ini yang akan ia kejar.

Sementara itu, Naruhito yang mempelajari sungai di abad pertengahan memiliki ketertarikan terhadap isu-isu air dan konservasi. Ada tanda-tanda ia menerima perubahan iklim.

"Ini memainkan kepentingannya, juga kepentingan nasional, dan juga kepentingan lintas batas, banyak isu seperti itu, mereka memiliki wadah unik yang dapat mereka gunakan, hal- hal seperti lingkungan atau menjangkau lintas batas untuk pengertian dan dialog yang lebih luas lagi di saat dunia makin rabun dan picik," kata Shihoko Goto.

Namun, menurut Kawanishi, dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi orang-orang Jepang yang antiperubahan. Kawanishi mengatakan, Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko juga dikritik pada awal masa jabatan mereka.

"Contohnya, ketika Michiko berlutut untuk menenangkan rakyat dan menggenggam tangan mereka, ia dikritik karena 'merusak otoritas kekaisaran'. Jadi, mereka bergerak dengan perlahan-lahan untuk menorehkan jejak di banyak hal, mereka ubah sesuatu, tunggu, lalu ubah lagi," kata Kawanishi. (lintar satria/reuters ed:yeyen rostiyani)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement