Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Mesir Hadapi Tekanan Atas Meninggalnya Mursi

Selasa 18 Jun 2019 12:48 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Mantan presiden Mesir Muhammad Mursi saat berada di pengadilan di Kairo, Mesir, 21 Juni 2015.

Mantan presiden Mesir Muhammad Mursi saat berada di pengadilan di Kairo, Mesir, 21 Juni 2015.

Foto: AP Photo/Ahmed Omar
Pihak berwenang menyatakan Mursi meninggal karena serangan jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Otoritas Mesir berada di bawah tekanan setelah mantan Presiden Muhammad Mursi pingsan di pengadilan dan meninggal, Senin (17/6).

Baca Juga

Mursi (67 tahun) telah ditahan sejak digulingkan pada 2013. Amnesty International telah menyerukan penyelidikan yang tidak memihak, menyeluruh, dan transparan atas kematiannya. Pihak berwenang menyatakan penyebabnya karena serangan jantung.

Keluarga dan aktivis telah mengangkat keprihatinan tentang kesehatannya serta kondisi di mana dia ditahan. Mursi menghabiskan sebagian besar waktu di sel isolasi. Laporan mengatakan dia telah dimakamkan di Kairo.

Mursi adalah seorang tokoh utama dalam gerakan yang sekarang dilarang, Ikhwanul Muslimin. Dia menjadi pemimpin pertama yang dipilih secara demokratis di negara itu pada 2012. Dia digulingkan dan ditahan dalam kudeta militer setahun kemudian setelah protes massa menentang pemerintahannya.

Kepala militer saat itu, Abdul Fattah el-Sisi telah berkuasa sejak 2014. Setelah Mursi dipindahkan, pihak berwenang melancarkan penumpasan terhadap para pendukungnya dan perbedaan pendapat lainnya yang menyebabkan puluhan ribu orang ditangkap.

Ikhwanul Muslimin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan merupakan diantara mereka yang menyalahkan kepemimpinan Mesir atas kematian Mursi. Sebelumnya, Mursi muncul di Kairo pada Senin atas tuduhan spionase terkait dugaan kontak dengan kelompok Hamas.

Para pejabat mengatakan dia telah meminta untuk berbicara kepada dewan panel. Ia dan berbicara sekitar lima menit dari tempat kaca kedap suara di mana dia ditahan bersama para terdakwa lainnya.

Beberapa menit kemudian, ia tampaknya pingsan saat istirahat. "Dia dipindahkan ke rumah sakit tempat dia dinyatakan meninggal," kata pernyataan jaksa penuntut umum Mesir, dilansir di BBC, Selasa (18/6).

Para pejabat mengatakan laporan forensik telah diperintahkan untuk menyelidiki kematiannya dan bersikeras tidak ada luka baru yang terlihat di tubuhnya. Televisi pemerintah sebelumnya menggambarkan penyebab kematiannya karena serangan jantung.

Mursi sudah menghadapi beberapa dekade di penjara setelah dijatuhi hukuman dalam tiga persidangan lainnya. Dia sebelumnya telah dijatuhi hukuman mati, tetapi hukuman itu kemudian dibatalkan.

Direktur Eksekutif Human Rights Watch Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara Sarah Leah Whitson menyatakan melalui Twitter kematian Mursi mengerikan, tetapi sepenuhnya dapat diprediksi. "Kematian mantan presiden Mursi terjadi setelah penganiayaan pemerintah selama bertahun-tahun, pengurungan yang berkepanjangan, perawatan medis yang tidak memadai, dan perampasan kunjungan keluarga dan akses ke pengacara," kata Whitston dalam sebuah pernyataan.

Kelompok itu menyerukan PBB untuk memulai penyelidikan yang digambarkan sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia yang sedang berlangsung di Mesir. Ini termasuk perlakuan buruk yang meluas di penjara.

Amnesty International juga meminta penyelidikan yang tidak memihak. Kelompok hak asasi itu mengatakan Mursi hanya diizinkan mengunjungi tiga keluarga dalam kurungan isolasi hampir enam tahun. Ia tidak diberi akses ke pengacaranya atau dokter.

Lengan politik Ikhwanul Muslimin, partai Kebebasan dan Keadilan, menggambarkan kematian Mursi sebagai pembunuhan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang merupakan sekutu dekat Mursi, menyalahkan 'tiran' Mesir atas kematiannya, dan menggambarkannya sebagai seorang martir.

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, sekutu lain dari Mursi, menyatakan kesedihan mendalam atas kematian tersebut. Anggota parlemen Inggris Crispin Blunt, yang memimpin panel politisi yang memperingatkan pada 2018 tentang kondisi kurungan Mursi, menyerukan penyelidikan internasional independen yang memiliki reputasi baik.

Mursi lahir di desa El-Adwah pada 1951. Ia belajar Teknik di Universitas Kairo pada 1970 sebelum pindah ke Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan gelar PhD.

Dia terpilih sebagai kandidat presiden Ikhwanul Muslimin untuk pemilihan 2012 setelah pilihan pilihan gerakan dipaksa untuk mundur. Selama tahun yang bergejolak di kantor, Mursi dituduh melakukan kudeta Islamis dan salah menangani ekonomi.

Oposisi publik terhadap pemerintahnya tumbuh dan jutaan demonstran anti-pemerintah turun ke jalan-jalan di seluruh Mesir untuk menandai peringatan pertama hari ia menjabat, pada 30 Juni 2013. Tiga hari kemudian, tentara menangguhkan konstitusi, mengumumkan pemerintah sementara menjelang pemilihan baru dan menahan Mursi, yang mengecam langkah itu sebagai kudeta.

Kemudian panglima militer el-Sisi terpilih sebagai presiden pada 2014, dan terpilih kembali tahun lalu dalam jajak pendapat kelompok-kelompok hak asasi. Ratusan orang telah terbunuh, dan puluhan ribu lainnya ditahan dalam penindasan berikutnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA