Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Angka Pernikahan di Cina Sangat Rendah

Rabu 17 Jul 2019 00:01 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pasangan yang sudah menikah (ilustrasi)

Pasangan yang sudah menikah (ilustrasi)

Foto: independent
Hanya tujuh dari 1.000 orang usia nikah yang menikah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Angka pernikahan di Cina sangat rendah, terutama di sejumlah daerah yang mengalami kemajuan secara ekonomi. Biro Pusat Statistik Nasional (NBS) dan Kementerian Kependudukan China (MCA) mencatat pada 2018 hanya terdapat rata-rata 7,2 orang yang menikah dari setiap 1.000 orang usia nikah.

Baca Juga

Angka pernikahan itu sangat rendah di China dalam 10 tahun terakhir, demikian media resmi setempat, Selasa (16/7). Di Kota Shanghai, sebagai daerah setingkat provinsi yang paling maju perekonomiannya di Cina, tercatat dari 1.000 orang hanya 4,4 orang yang menikah disusul oleh Provinsi Zhejiang di angka 5,9 orang.

Angka pernikahan juga sangat rendah di Provinsi Guangdong, Kota Beijing dan Kota Tianjin yang merupakan daerah maju di Cina. Profesor Yuan Xin dari Nankai University, Tianjin, mengemukakan alasan utama rendahnya angka pernikahan terjadi lantaran banyaknya orang yang tidak ingin menikah.

Menurut dia, warga berlatar belakang pendidikan tinggi biasanya memilih tidak buru-buru menikah. Hampir 40 persen perempuan lulusan perguruan tinggi masih bekerja atau sedang mengejar gelar doktor sehingga mereka memilih berumah tangga dengan pria yang memiliki latar belakang pendidikan setara. Alasan itu pula yang membuat perempuan berpendidikan di Cina butuh waktu lama mendapatkan jodoh.

Usia rata-rata menikah bagi penduduk Shanghai pada 2015 adalah 30,3 tahun untuk pria dan 28,4 tahun untuk wanita. Federasi Perempuan Shanghai (SWF) mencatat usia rata-rata itu mundur lima tahun untuk pria dan 5,4 tahun untuk wanita dibandingkan 2005.

Saat ini terdapat sekitar tujuh persen perempuan berusia 30-35 tahun di Cina tidak menikah atau lebih dari 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan 1990. Akselerasi urbanisasi menjadi beban ekonomi tersendiri bagi warga yang tinggal di perkotaan sehingga minat untuk menikah dan memiliki keturunan makin rendah.

Survei Liga Pemuda Komunis Cina (CYLC) pada 2018 mendapati 69,5 persen responden menyatakan tidak menikah hingga menemukan alasan yang bisa mereka terima. Selain itu, survei tersebut juga menemukan 15,6 persen responden merasa nyaman hidup sendirian.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA