Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Soal Penahanan Tanker, Iran Siapkan Skenario Berbeda

Senin 22 Jul 2019 09:26 WIB

Red: Budi Raharjo

Kapal tanker berbendera Inggris Stena Impero di pelabuhan Iran Bandar Abbas, yang ditahan Garda Revolusi Iran saat berada di Selat Hormuz, Sabtu (20/7).

Kapal tanker berbendera Inggris Stena Impero di pelabuhan Iran Bandar Abbas, yang ditahan Garda Revolusi Iran saat berada di Selat Hormuz, Sabtu (20/7).

Foto: Tasnim News Agency/via AP
London berencana memberikan sanksi kepada Iran setelah penyitaan tanker.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Iran pada Ahad (21/7) mendesak Inggris untuk menahan tekanan politik dalam negeri yang dapat meningkatkan ketegangan antara kedua negara. Hal ini dinyatakan setelah Jumat (19/7) lalu Iran menahan tanker berbendera Inggris, Stena Impero, di Teluk Persia.

Baca Juga

"Pemerintah Inggris harus menahan kekuatan politik domestik yang dapat meningkatkan ketegangan antara Iran dan Inggris di luar masalah kapal. Ini sangat berbahaya dan tidak bijaksana pada waktu yang sensitif di kawasan ini," ujar Dubes Iran untuk Inggris Hamid Baeidinejad di akun Twitter-nya, Ahad.

"Namun, Iran tegas dan siap untuk skenario yang berbeda," ujar Baeidinejad menambahkan.

Pada 4 Juli, Inggris menahan tanker Iran, Grace 1, di Selat Gibraltar. Kapal itu diduga hendak mengirim pasokan minyak ke Suriah yang berada di bawah sanksi Uni Eropa. Hal ini memicu Iran untuk membalas aksi Inggris.

Ketua parlemen Iran Ali Larijani mengatakan, penangkapan tanker Inggris oleh Iran merupakan respons atas disitanya kapal Grace 1. "Garda Revolusi menanggapi pembajakan Inggris atas tanker Iran," ujar Larijani di hadapan parlemen.

Sementara itu, Allahmorad Afifipour, kepala Organisasi Pelabuhan dan Maritim di Provinsi Hormozgan, Iran, mengatakan, awak kapal Stena Impero dalam keadaan aman dan sehat. "Semua 23 awak kapal aman dan dalam kondisi sehat di Pelabuhan Bandar Abbas," ujarnya.

Afifipour beralasan, kapal sitaan Stena Impero berisiko bagi keselamatan maritim di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan tempat lalu lintas pelayaran 20 persen pasokan minyak global.

Stena Bulk, pemilik kapal, berupaya untuk mengunjungi awak kapal yang berasal dari India, Latvia, Filipina, dan Rusia. Sementara India meminta Iran untuk membebaskan 18 awak kapal dari negaranya.

Pada Ahad, perusahaan keamanan maritim Dryad Global merilis rekaman komunikasi radio antara kapal Inggris dan kapal Iran sebelum kapal Stena Impero disita. Dalam rekaman terdengar seorang perwira angkatan laut Inggris mengatakan bahwa di bawah hukum internasional kapal tanker berbendera Inggris yang melewati Selat Hormuz tidak boleh dirusak.

Seorang perwira angkatan laut Iran merespons dengan meminta kapal tanker Stena Impero untuk mengubah arah pelayaran. Rekaman itu menunjukkan bahwa angkatan laut Inggris tidak dapat mencegah penyitaan kapal Stena Impero oleh Iran. "Anda patuh, Anda akan aman," ujar perwira angkatan laut Iran.

Penyitaan tanker Inggris oleh Iran telah meningkatkan ketegangan antara kedua negara yang merupakan pihak dalam kesepakatan nuklir atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015. Surat kabar Daily Telegraph melaporkan, London berencana memberikan sanksi kepada Iran setelah penyitaan kapal tanker.

Kementerian Luar Negeri Prancis mengaku prihatin dengan penyitaan tanker Inggris oleh Iran. "Kami sangat mengecam penyitaan ini dan mengungkapkan solidaritas kami untuk Inggris," kata Kementerian Luar Negeri Prancis pada Ahad. (rizky jaramaya/lintar satria/reuters/ap ed:yeyen rostiyani)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA