Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Inggris Isyaratkan Keluar dari UE Tanpa Kesepakatan

Sabtu 27 Jul 2019 20:42 WIB

Red: Budi Raharjo

Boris Johnson

Boris Johnson

Foto: IST
Tidak ada jadwal pembicaraan dengan Uni Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- British Exit (Brexit) atau dikenal dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) kemungkinan dicapai tanpa kesepakatan. Perdana Menteri (PM) Inggris baru Borris Johnson sepertinyna menetapkan Inggris pada jalur yang jelas menuju Brexit tanpa kesepakatan sebab ia menolak perjanjian UE.

Ia pesimistis kemungkinan setiap pembicaraan dengan UE kecuali Brussels setuju membatalkan perjanjian penarikan yang ada, dan Irlandia mundur. Namun, keduanya dikesampingkan.

Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar memperingatkan, Brexit yang tanpa kesepakatan dapat membuat lebih banyak orang di Irlandia Utara mencari cara agar Irlandia yang bersatu. Menurutnya, orang-orang yang disebut sebagai nasionalis moderat atau Katolik moderat, yang kurang lebih senang dengan status quo, akan lebih melihat Irlandia yang bersatu.

"Dan kita akan semakin melihat kaum Protestan liberal dan anggota serikat liberal mulai mengajukan pertanyaan tentang di mana mereka merasa lebih di rumah: apakah di Inggris nasionalis yang berbicara tentang berpotensi memperkenalkan kembali hukuman mati, atau sesuatu seperti itu, atau apakah itu bagian rumah Eropa dan bagian dari Irlandia?," kata Varadkar.

Juru Bicara Johnson mengatakan, tidak ada jadwal pembicaraan dengan UE. Pun jika pembicaraan terjadi, sudah jelas apa dasar pembicaraan itu, sebuah pesan yang dikirim pribadi oleh PM baru ke Angela Merkel.

Menurut Downning Street No 10, Johnson melakukan pembicaraan pribadi kepada kanselir Jerman melalui telepon, Jumat (26/7) waktu setempat. Merkel akan mencari kesepakatan yang katanya adalah satu-satunya solusi. Sementara Inggris harus mempersiapkan untuk prospek keberadaan tidak sepakat.

"Apa yang kami lakukan adalah menetapkan posisi kami dan kami sangat siap dan akan bersemangat dalam memulai pembicaraan, tetapi kami juga jelas apa yang menjadi dasar dari diskusi itu," kata juru bicara Downing Street No 10 seperti dilansir The Guardian, Sabtu.

Boris Johnson menegaskan kembali dalam pidato perdananya di House of Commons janjinya untuk meninggalkan UE pada 31 Oktober dalam situasi apapun. Keluarnya Inggris berarti Inggris keluar dari blok 28 negara tanpa kesepakatan mengingat UE yang menolak untuk membukan kembali perundingan.

Johnson mengatakan, kesepakatan Brexit oleh pendahulunya Theresa May tak dapat diterima dan harus dirundingkan kembali, sebuah gagasan yang tak disetujui Merkel. Langkah Johnson kemungkinan akan menghadapi beberapa pergolakan pada pertemuan dengan para pemimpin UE, termasuk pada KTT G7 bulan depan di Prancis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA