Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Tsunami 1906, 10 Ribu Warga Hong Kong Meninggal

Rabu 18 Sep 2019 07:36 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Gedung surat kabar South China Morning Post saat tsunami 1906 di Hong Kong.

Gedung surat kabar South China Morning Post saat tsunami 1906 di Hong Kong.

Foto: South China Morning Post
Bencana alam itu dianggap yang terburuk di Hong Kong.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Hari ini 18 September 1906, topan besar yang menyebabkan gelombang tinggi air laut melanda Hong Kong. Bencana alam tersebut menelan ribuan korban jiwa.

Dilansir South China Morning Post, sebanyak 10 ribu orang meninggal dunia akibat bencana ini. Bencana alam terburuk di Hong Kong menghancurkan hampir seluruh wilayah. Tidak adanya peringatan dari para ahli meteorologi di Manila masih menjadi hal kontroversial.

The Hong Kong Observatory dilaporkan tidak mengetahui adanya topan sampai sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Saat itu, kaca jatuh dengan cepat dan sinyal hitam naik menunjukkan badai berjarak 480 Km. Pada jam 10.00, Post melaporkan, jarak pandang hanya beberapa meter.

Menjelang siang, dampak terburuk telah berakhir dan kehancuran mulai terlihat. Jalanan banjir, toko-toko tenggelam dan jalan-jalan ditutup oleh puing-puing dan pohon tumbang. 

Pada 20 September, Post mencatat 47 kapal hancur dan melaporkan setengah dari 2.000 kapal layar Hong Kong telah rusak.  Kapal uap penumpang hancur, Monteagle terbawa ke darat dan Kwongchow tenggelam, tidak ada yang tersisa selain corongnya. Atap baru dermaga Star Ferry telah hancur dan remuk.

Polisi kehilangan tempat tinggal dan semua catatan hancur oleh runtuhnya stasiun Sham Shui Po. Sebagian besar berita surat kabar hari itu didominasi hilangnya Uskup Victoria yang berlayar ke Castle Peak sebelum badai menghantam. Uskup Joseph Hoare tewas dalam badai itu. 

"Pemandangan korban meninggal tak terhitung dan tidak dapat membantu mereka dengan cara apa pun terlalu mengerikan!" kata seorang saksi di markas angkatan laut HMS Tamar.

Baca Juga

Pada 21 September, skala hilangnya nyawa mulai menjadi jelas, surat kabar menyatakan 700 orang telah dilaporkan hilang di kantor polisi, dan ratusan mayat telah hanyut ke pantai atau ditemukan di bawah puing-puing yang ditinggalkan oleh badai.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA