Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Kisah Nabi Yusuf AS dan Kemarau Panjang di Mesir

Rabu 28 Aug 2019 12:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Pohon Meranggas Imbas Kemarau Panjang. Pepohonan meranggas di Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta, Sabtu (17/8/2019).

Pohon Meranggas Imbas Kemarau Panjang. Pepohonan meranggas di Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta, Sabtu (17/8/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Musim kemarau pernah terjadi di masa Nabi Yusuf as.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim kemarau pernah terjadi di masa Nabi Yusuf as. Berawal dari mimpi raja Mesir kala itu, takwil mimpi dari Nabi Yusuf terbukti bisa menyelamatkan penduduk Mesir dari kelaparan akibat musim kemarau panjang.

Dikisahkan, raja Mesir di zaman Nabi Yusuf bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh sapi betina kurus dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh bulir gandum kering. Sang raja yang merasa penasaran lantas memanggil para penafsir mimpi untuk menguak makna mimpi itu. Namun, para ahli penafsir mimpi hanya mengatakan bahwa mimpi itu tak berarti.

Raja yang tidak puas dengan jawaban tersebut kemudian mencari tahu siapa orang yang mampu menafsirkan mimpi dengan baik. Pelayan istana mengarahkan sang raja kepada Nabi Yusuf yang saat itu tengah terkurung dalam penjara.

Nabi Yusuf lantas menjelaskan bahwa mimpi itu adalah peringatan dari Sang Pencipta akan terjadinya masa tujuh tahun dengan air yang subur dan melimpah serta tujuh tahun berikutnya musim paceklik di mana sungai Nil mengering. 
 

Pakar Alquran Indonesia, Dr KH Ahsin Sakho Muhammad, mengatakan sungai Nil di Mesir kala itu menjadi sumber air yang mengairi lahan-lahan tanaman di negeri Piramida tersebut. Jika sungai Nil mengering, tentunya penduduk Mesir akan kesulitan, terutama dalam bercocok tanam.

Karena itulah, Nabi Yusuf menyarankan agar masyarakat bercocok tanam selama tujuh tahun yang subur itu. Setelah dipanen, hasilnya agar disimpan dengan baik sebagai persediaan untuk masa tujuh tahun musim paceklik.

Nabi Yusuf menyarankan agar biji-bijian dari gandum tidak dipisahkan dari tangkainya sehingga bertahan lebih awet. Masyarakat agar memakan hasil panen itu sekedarnya dan tidak berlebihan. Atas saran Nabi Yusuf itulah, masyarakat Mesir memiliki persediaan pangan selama musim kemarau terjadi dan mereka tidak kelaparan. Setelah hujan datang kembali, masyarakat dapat bercocok tanam kembali dan menikmati hasil panennya.

Raja pun mengapresiasi saran Nabi Yusuf dan membebaskannya dari segala dakwaan. Bahkan, raja mengangkat Nabi Yusuf menjadi orang dekatnya. Ia menjadi bendahara negara karena kemampuannya yang pandai menjaga harta dan berpengetahuan tentang hal tersebut.

Kiai Ahsin Sakho mengatakan, ada hikmah yang bisa dipetik dari kisah musim kemarau di masa Nabi Yusuf ini. Menurutnya, masyarakat terutama pemerintah di masa kini bisa mengambil pelajaran akan ketahanan pangan dari kisah Nabi Yusuf tersebut.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan para pakar yang bisa memprediksi musim yang akan datang, Kiai Ahsin mengatakan pemerintah seharusnya memiliki kebijakan dalam menghadapi musim paceklik atau kemarau. Sebab, kata dia, pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi masyarakatnya dari kesulitan pangan.

"Pemimpin atau penguasa hendaknya mendorong dan menjamin agar masyarakatnya memiliki ketahanan pangan, harus bisa mempertahankan makanan bagi penduduk di negerinya," kata Kiai Ahsin, saat dihubungi Republika.co.id, Senin (26/8) malam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA