Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Sejarah Hari Ini: Mao Zedong Proklamasikan Kemerdekaan Cina

Selasa 01 Okt 2019 06:59 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Anak-anak di Beijing, China, sedang berpose bersama lukisan mantan pemimpin Cina Mao Zedong.

Anak-anak di Beijing, China, sedang berpose bersama lukisan mantan pemimpin Cina Mao Zedong.

Foto: EPA
Saat itu, negarawan Zhou Enlai menjadi perdana menterinya.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Revolusioner komunis Mao Zedong secara resmi memproklamirkan keberadaan Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1 Oktober 1949. Saat itu, negarawan Zhou Enlai menjadi perdana menterinya.

History mencatat, proklamasi itu adalah puncak dari pertempuran bertahun-tahun antara pasukan komunis Mao dan rezim pemimpin Cina Nasionalis Chiang Kai-Shek, yang didukung dengan uang dan senjata dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Hilangnya China, negara terbesar di Asia, akibat komunisme merupakan pukulan berat bagi AS yang masih memulihkan diri akibat peledakan alat nuklir Uni Soviet satu bulan sebelumnya.

Pejabat Departemen Luar Negeri dalam pemerintahan Presiden AS Harry S. Truman berupaya mempersiapkan publik AS dari hasil terburuk ketika mereka merilis buku putih pada Agustus 1949. Laporan itu mencatat rezim Chiang sangat korup, tidak efisien, dan tidak populer sehingga tidak ada bantuan yang bisa menyelamatkannya. 

Namun demikian, kemenangan komunis di Cina menimbulkan gelombang kritik dari Partai Republik yang menuduh pemerintahan Truman kehilangan Cina, sebab salah penanganan situasi. Anggota Partai Republik lainnya saat itu, terutama Senator Joseph McCarthy, melangkah lebih jauh.

Baca Juga

Dia mengklaim Departemen Luar Negeri telah baik pada komunisme. Namun, lebih parahnya lagi, McCarthy mengacu ada simpatisan pro-komunis di departemen.

AS awalnya menahan pengakuan dari pemerintah komunis baru di Cina. Pecahnya Perang Korea pada 1950, di mana pasukan komunis Cina dan AS bertempur, mendorong perselisihan yang lebih dalam antara kedua negara.

Presiden AS berikutnya Richard Nixon memecahkan kebuntuan dengan kunjungannya ke Cina pada Februari 1972. Kemudian, AS memperluas pengakuan diplomatik resmi pada 1979.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA