Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Kongres AS Semakin Tekan Trump Soal Pembunuhan Khashoggi

Rabu 02 Oct 2019 15:30 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Jamal Khashoggi.

Jamal Khashoggi.

Foto: AP
Jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi dibunuh satu tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Tepat satu tahun setelah jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi dinyatakan tewas dibunuh, Kongres Amerika Serikat (AS) merasa perlu semakin menekan Presiden Donald Trump. Langkah itu dianggap harus dilakukan karena sikap Trump yang dinilai masih membela Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), sosok yang diduga kuat sebagai pelaku utama dalam kasus pembunuhan itu.

Trump diketahui menggunakan hak veto sebagai Presiden AS untuk memblokir kongres agar tidak mengambil tindakan terhadap MBS. Salah satu alasannya diyakini karena selama ini negara adidaya itu melakukan penjualan senjata ke Saudi hingga terlibat dalam perang di Yaman.

Khashoggi yang dikenal sebgai kolomnis Washington Post tewas pada 2 Oktober 2018 di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Selama ini, ia kerap menulis kolom-kolom yang mengkritik kebijakan Pemerintah Arab Saudi, termasuk terhadap MBS dalam sejumlah hal, diantaranya perang Yaman.

Badan Intelijen AS (CIA) bahkan mencapai kesimpulan adanya keterlibatan Mohammed dalam kasus ini dengan terkumpulnya sejumlah bukti kuat dan para pejabat di Negeri Paman Sam juga telah memberi kepercayaan yang tinggi atas hal ini  tersebut. Salah satu bukti utama yang didapatkan adalah panggilan telepon yang menyatakan saudara laki-laki Pangeran Mohammed, Duta Besar Saudi untuk AS Khalid bin Salman telah bersama Khashoggi.

Selama tiga tahun terakhir, MBS dikenal sebagai sosok yang melakukan reformasi untuk kerajaan konservatif Arab Saudi. Ia telah mendapatkan pujian secara luas dan mendunia, terlebih setelah secara resmi dicabutnya larangan mengemudi terhadap perempuan di negara Timur Tengah tersebut.

Namun, kasus pembunuhan Jamal Khashoggi seketika membuat MBS mendapat kecaman. Kemarahan internasional terjadi untuk Arab Saudi karena dikatakan sejumlah bukti telah menyimpulkan MBS berada di balik kasus itu.

Baru-baru ini, MBS menyatakan ia tidak pernah memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Namun, ia mengakui harus memikul tanggung jawab penuh atas kasus itu, sebagai seorang pemimpin negara.

“Karena itu dilakukan oleh orang-orang yang bekerja untuk Pemerintah Arab Saudi. Ini kesalahan dan saya harus mengambil semua tindakan untuk menghindari hal seperti ini kembali terjadi,” ujarnya.

Mohammed mengatakan investigasi atas pembunuhan Khashoggi terus dilakukan dan saat seseorang terbukti berada di balik kasus ini, maka ia akan diadili, tidak peduli apa pun jabatan yang dimilikinya. Hingga saat ini diketahui ada 11 tersangka yang telah diadili dalam persidangan rahasia, tetapi hanya beberapa sidang telah diadakan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA