Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Mengandung Asbes, Bedak Johnson & Johnson Ditarik

Sabtu 19 Oct 2019 11:19 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Andi Nur Aminah

Bedak bayi Johnson & Johnson

Bedak bayi Johnson & Johnson

Foto: BBC
Penarikan dilakukan karena adanya tuntutan dari konsumen.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perusahaan yang memproduksi bedak bayi Johnson & Johnson akhirnya memutuskan untuk menarik produknya dari pasaran mulai Jumat (18/10) lalu. Hal itu dilakukan lantaran banyak tuntutan dari kosumen yang merasa dirugikan lantaran bedak itu mengandung asbes di dalamnya.

Baca Juga

Dalam pernyataan resmi perusahaan tersebut, disebutkan bahwa penarikan memang karena adanya tuntutan dari konsumen usai otoritas makanan dan kosmetik (FDA) Amerika Serikat (AS) menemukan asbes dalam bedak bayi itu. Tapi perusahaan mengklaim, kandungan asbes itu hanyalah 0,00002 persen saja.

Juru bicara perusahaan, Erni Kerwetz, mengatakan, penarikan produk dari pasaran itu baru kali pertama terjadi setelah 40 tahun bedak Johnson & Johnson diproduksi. Sebelum kejadian kali ini, ia juga memastikan bahwa perusahaan telah melakukan standar pengecekan yang tinggi untuk memastikan tidak ada kandungan asbes di dalam produk tersebut.

"Ribuan pengujian yang telah kami lakukan selama 40 tahun terakhir menunjukkan bahwa para konsumen kami tidak terkontiminasi asbes. Poduk kami dibuat dari bahan yang telah melewati pemeriksaan dengan standar tinggi. Terlebih, pengecekan produk kami juga diuji dan telah diakui oleh laboratorium independen, universitas dan otoritas kesehatan global," kata sebagaimana dilansir Fox News, Sabtu (19/10).

Sebelumnya, ribuan tuntutan hukum dilayangkan oleh konsumen Johnson & Johnson yang merasa dirugikan lantaran bedak bayi ikonik itu terkontaminasi asbes. Sebab, asbes bisa menyebabkan kanker ovarium dan jenis kanker langka lainnya.

Seorang profesor bisnis di University of Michigan, Erik Gordon, mengatakan, penarikan yang dilakukan akan membuat perusahaan sulit memberikan pembelaan di pengadilan. Akibatnya, perusahaan tersebut diperkirakan akan mengeluarkan banyak biaya untuk menyelesaikan masalah ini.

Adapun kandungan asbes, berdasarkan kajian Oregoin State University, jika tertelan bisa mengendap di paru-paru atau saluran pencernaan. Sedangkan tubuh tak bisa menghancurkannya secara alami, sehingga sejumlah masalah kesehatan serius bisa muncul seperti asbestosis, kanker paru-paru dan mesothelioma.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA