Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Pasukan Kurdi Tarik Diri dari Ras Al Ain

Senin 21 Oct 2019 03:45 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Teguh Firmansyah

Tentara oposisi Suriah yang didukung Turki mengendarai kendaraan bersenjata di Akcakale, Sanliurfa, tenggara Turki, Jumat (18/10).

Tentara oposisi Suriah yang didukung Turki mengendarai kendaraan bersenjata di Akcakale, Sanliurfa, tenggara Turki, Jumat (18/10).

Foto: AP Photo/Mehmet Guzel
Turki mengancam akan kembali menyerah wilayah Kurdi.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Kurdi mengatakan pada Ahad, mereka telah menarik diri dari kota perbatasan Ras al Ain di bawah kesepakatan gencatan senjata yang diperantarai AS.

Baca Juga

Namun seorang juru bicara pemberontak Suriah yang didukung Turki mengatakan penarikan itu belum lengkap.  Ras al Ain adalah salah satu dari dua kota di perbatasan Turki-Suriah yang telah menjadi target utama serangan Turki untuk mendorong kembali para pejuang Kurdi dan menciptakan "zona aman" lebih dari 30 mil (sekitar 20 mil) di dalam wilayah Suriah.

Turki menghentikan serangan pada Kamis malam selama lima hari berdasarkan kesepakatan yang disepakati antara Presiden Tayyip Erdogan dan Wakil Presiden AS Mike Pence. 

"Erdogan telah memperingatkan bahwa Turki akan melanjutkan serangan ketika batas waktu berakhir pada Selasa habis dan SDF tidak mundur dari daerah zona aman.  Kami tidak memiliki pejuang lagi di kota, "kata juru bicara SDF Kino Gabriel, Ahad (20/10).

Ankara mengatakan puluhan kendaraan telah masuk dan meninggalkan Ras al Ain, yang sebagian besar dikelilingi oleh pasukan Turki dan sekutu pemberontak Suriah.

Juru bicara pemberontak Mayor Youssef Hamoud mengatakan kepada Reuters bahwa SDF "belum sepenuhnya" keluar dari Ras al Ain.

Turki melancarkan serangan wialyah setelah Presiden Donald Trump mengumumkan  menarik pasukan AS dari Suriah timur laut.  Langkahnya dikritik di Washington dan di tempat lain sebagai pengkhianatan sekutu Kurdi yang telah bertahun-tahun berperang bersama pasukan AS melawan ISIS. 

Penarikan AS juga dinilai menciptakan kekosongan yang Rusia inginkan sebagai pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Erdogan telah mendukung pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan Assad dalam konflik Suriah selama delapan tahun. Namun ia mengatakan Turki tidak memiliki masalah dengan pasukan pemerintah Suriah yang ditempatkan di dekat perbatasan jika milisi YPG dipindahkan.

Dia juga mengatakan pada hari Jumat, Turki akan membentuk belasan pos pengamatan di "zona aman" yang ingin dibentuk.  Pasukan Turki sudah mulai membangun dua pos pada hari Ahad, kata seorang saksi mata di wilayah tersebut.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA