Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kurdi-Turki Saling Ancam

Senin 21 Oct 2019 08:41 WIB

Red: Budi Raharjo

Tentara oposisi Suriah yang didukung Turki mengendarai kendaraan bersenjata di Akcakale, Sanliurfa, tenggara Turki, Jumat (18/10).

Tentara oposisi Suriah yang didukung Turki mengendarai kendaraan bersenjata di Akcakale, Sanliurfa, tenggara Turki, Jumat (18/10).

Foto: AP Photo/Mehmet Guzel
Erdogan menuduh pasukan Kurdi Suriah melepaskan 750 anggota dan keluarga ISIS.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan menghancurkan militan Kurdi. Hal tersebut akan dilakukan apabila pasukan Kurdi tidak mundur dari zona aman di Suriah utara.

Sejak Jumat (18/10), serangan militer Turki sedikit mereda untuk memberikan kesempatan Kurdi mundur. Sehari sebelumnya, atas intervensi Amerika Serikat (AS), Turki setuju menghentikan serangan militernya di Suriah timur laut selama lima hari.

Turki ingin waktu tersebut digunakan militan Kurdi untuk menarik diri dari zona aman. Pasukan pimpinan Kurdi yang telah melakukan kontak dengan AS selama negosiasi mengatakan, akan mematuhi gencatan senjata. Tapi, mereka belum berkomitmen menarik pasukan.

Erdogan telah memperingatkan, Turki akan meluncurkan serangan ketika kesepakatan habis dan militan Kurdi tidak menarik diri dari zona 30 kilometer. Pada Sabtu (19/10) kedua pihak saling menyalahkan atas pertempuran yang telah mengguncang gencatan senjata yang ditengahi AS.

Erdogan mengatakan, pada upacara pembukaan di provinsi Turki tengah Kayseri, Turki akan menghancurkan militan Kurdi di Suriah utara ketika mereka menolak mundur dari daerah itu selama 120 jam.

Erdogan akan membahas penyebaran pasukan pemerintah Suriah di zona aman selama pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada pekan ini. Tapi, dia memperingatkan, Ankara akan melaksanakan rencana sendiri jika solusi tidak tercapai.

Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan, 41 orang yang diduga anggota ISIS ditangkap kembali setelah melarikan diri dari kamp tahanan di tengah pertempuran, awal pekan ini. Dia menyebut, lebih dari 195 orang dicurigai anggota ISIS kembali ditangkap. Mereka akan dipindahkan ke daerah-daerah yang dikendalikan oleh Turki di Suriah utara, termasuk Afrin dan al-Bab.

Erdogan menuduh pasukan Kurdi Suriah melepaskan 750 anggota dan keluarga ISIS di tengah serangan Turki. Kurdi mengatakan, mereka keluar dari kamp beberapa pekan lalu, menyerang penjaga di tengah bentrokan berat dan serangan udara Turki di dekatnya.

Pejuang Suriah yang didukung Turki bentrok dengan pasukan pimpinan Kurdi di beberapa bagian utara-timur Suriah pada Sabtu. Laporan the Guardian menyatakan, beberapa orang melintasi perbatasan dari Turki untuk menyerang sebuah desa.

Setelah memasuki dua hari gencatan senjata, kedua belah pihak masih menembaki kota perbatasan utama Ras al-Ayn. Tidak ada tanda-tanda penarikan pasukan pimpinan Kurdi dari posisi di sepanjang perbatasan Suriah-Turki sebagaimana perjanjian yang dicapai antara Turki dan AS.

Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, sepenuhnya patuh dengan perjanjian itu. Koordinasi sesaat dengan Washington yang telah dilakukan untuk memastikan kesinambungan ketenangan.

Kementerian menuduh pimpinan Kurdi melakukan 14 serangan dan gangguan dalam 36 jam terakhir. Sebagian besar dilakukan di Kota Ras al-Ayn yang dikepung oleh pejuang sekutu sebelum gencatan senjata. Militan Suriah Kurdi menggunakan mortir, roket, anti-aircarft, dan senjata berat antitank.

Baca Juga

photo
Wakil Presiden AS Mike Pence mengumumkan gencatan senjata Turki di Suriah di kediaman duta besar AS di Ankara, Turki, Kamis (17/10).


Pasukan Kurdi mengimbau Wakil Presiden AS Mike Pence untuk mematuhi kesepakatan. Turki, menurut mereka, telah gagal mematuhi ketentuan-ketentuannya dan terus mengepung Ras al-Ayn. Pasukan Syrian Democratic Forces (SDF) yang dipimpin Kurdi mengatakan, masih ada bentrokan di dalam Ras al-Ayn dan personel medis tidak bisa masuk untuk membantu yang terluka.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berpusat di Inggris mengatakan, pasukan yang didukung Turki memasuki Suriah dan maju ke Shakariya yang dikuasai Kurdi. Lokasi tersebut berada di sebelah timur Ras al-Ayn, tempat terjadi bentrokan dan serangan Turki sehari sebelumnya.

Video yang diunggah di internet menunjukkan pasukan berjalan di sepanjang tembok yang telah didirikan Turki sepanjang perbatasan dan mereka mengklaim sedang menuju serangan ke Suriah. Video tidak menunjukkan mereka melintasi perbatasan.

Militan Suriah yang didukung Turki telah mencegah konvoi medis mencapai Ras al-Ayn. SOHR mengatakan, konvoi medis tiba di luar kota pada Jumat lalu, tapi faksi yang didukung Turki menutup jalan di depan dan belakang. Ini membuat tim tersebut terjebak di luar Ras al-Ayn.

Menuju Irak

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper mengatakan, hampir 1.000 tentara yang ditarik dari Suriah utara diperkirakan akan pindah ke Irak barat, Sabtu (19/10). Mereka akan melanjutkan perlawanan terhadap gerakan ISIS dan upaya untuk membantu mempertahankan Irak.

Esper mengatakan, penarikan pasukan AS di Suriah timur laut akan terus berlanjut. Mereka akan dipindahkan ke Irak barat dengan menggunakan pesawat dan konvoi melalui jalur darat. "Rencana permainan saat ini adalah pasukan-pasukan itu untuk memosisikan kembali ke Irak barat," kata Esper dikutip dari france24, Ahad (20/10).

Esper menyebut, misi untuk pasukan itu untuk membantu mempertahankan Irak dan melaksanakan misi anti-ISIS. Seorang pejabat senior pertahanan AS mengklarifikasi, situasinya masih lancar dan rencana bisa berubah.

"Banyak hal dapat berubah antara sekarang dan setiap kali kami menyelesaikan penarikan, tetapi itu adalah rencana permainan sekarang," kata pejabat senior itu.

photo
Turki serang pasukan Kurdi di Suriah


Esper pun menaruh perhatian terhadap gencatan senjata antara Turki dan Suriah. Pada Kamis lalu Turki sepakat untuk melakukan genjatan senjata selama lima hari dalam serangan ke timur laut Suriah. Jeda waktu tersebut diberikan untuk militan Kurdi menarik diri dari zona aman.

Gencatan senjata juga bertujuan meredakan krisis yang dipicu oleh keputusan mendadak Presiden AS Donald Trump, awal bulan ini. Dia memerintahkan menarik semua tentara AS dari Suriah utara yang bejumlah 1.000 orang. Langkah itu mendapatkan kritik di Washington dan di tempat lain sebagai pengkhianatan terhadap Kurdi yang telah berjuang selama bertahun-tahun bersama pasukan AS melawan ISIS. n dwina agustin, ed: qommarria rostanti

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA