Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Korsel Minta Dukungan ASEAN untuk Perdamaian Semenanjung

Senin 04 Nov 2019 16:08 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saling berpelukan setelah menandatangani pernyataan bersama di desa perbatasan Panmunjom di Zona Demiliterisasi, Korea Selatan.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saling berpelukan setelah menandatangani pernyataan bersama di desa perbatasan Panmunjom di Zona Demiliterisasi, Korea Selatan.

Foto: Korea Summit Press Pool via AP
Upaya perdamaian Korut-Korsel alami kemajuan berkat kerja sama ASEAN.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in meminta negara anggota ASEAN melanjutkan dukungan bagi proses perdamaian di Semenanjung Korea. Hal itu penting karena saat ini proses perdamaian bergerak lambat. 

Moon mengungkapkan, upaya perdamaian dengan Korea Utara (Korut) banyak mengalami kemajuan berkat dukungan dan kerja sama ASEAN. "Tapi itu tidak mudah untuk menyelesaikan konfrontasi lama," ujarnya saat berbicara pada akhir sesi KTT ASEAN Plus Three (APT) ke-22 di Bangkok, Thailand, Senin (4/11), dilaporkan kantor berita Korsel, Yonhap.

Kendati demikian harapan untuk mencapai perdamaian di Semenanjung Korea masih ada. "Untungnya kepercayaan tetap ada antara para pemimpin Korut dan Amerika Serikat (AS) serta tidak ada perubahan dalam komitmen mereka untuk melanjutkan dialog," kata Moon.

Menurutnya, pembicaraan tingkat kerja dan pertemuan puncak ketiga antara para pejabat Korut serta AS akan menjadi momen paling kritis. Dalam konteks ini, terkait proses denuklirisasi dan perdamaian permanen di Semenanjung Korea.

Jika perdamaian di Semenanjung Korea berhasil terwujud, Korsel akan berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas di Timur Laut dan Asia Tenggara sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai benua dan lautan. "Dukungan dan kerja sama komunitas internasional lebih dibutuhkan daripada waktu lainnya," ujar Moon.

Pada Oktober lalu, AS dan Korut telah melanjutkan pembicaraan denuklirisasi Semenanjung Korea di Swedia. Korut mengklaim negosiasi tersebut kembali berujung kegagalan.

Baca Juga

Utusan nuklir Korut Km Myong Gil mengatakan negosiasi tersebut belum memenuhi harapan dan akhirnya terhenti kembali. “AS meningkatkan harapan dengan menawarkan saran seperti pendekatan yang fleksibel, metode baru dan solusi kreatif, tapi mereka sangat mengecewakan kami,” kata dia kepada awak media di luar Kedutaan Besar Korut di Swedia.

Menurutnya, AS masih mempertahankan pendekatan lama dalam perundingan. “AS tidak akan melepaskan sudut pandang dan sikap lama mereka,” ujar Kim Myong Gil.

Namun, Washington membantah kabar tersebut. Sebaliknya, AS menyatakan telah menjalin dialog konstruktif dengan Korut.

“Komentar awal dari delegasi Korut tidak mencerminkan konten atau semangat diskusi selama 8,5 jam hari ini. AS membawa ide-ide kreatif dan berdiskusi dengan rekan-rekan Korut-nya,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus.

Dia mengungkapkan AS telah menerima undangan dari Swedia untuk mengadakan pembicaraan lebih banyak dengan delegasi Korut. Namun, Ortagus tak menjelaskan lebih terperinci tentang hal tersebut.

Perundingan denuklirisasi antara AS dan Korut yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada Februari lalu diketahui berakhir tanpa kesepakatan. Hal itu disebabkan karena kedua belah pihak mempertahankan posisinya tentang penerapan sanksi.

Korut, yang telah menutup beberapa situs uji coba rudal dan nuklirnya, meminta AS mencabut sebagian sanksi ekonominya. Namun, AS tetap berkukuh tak akan mencabut sanksi apa pun kecuali Korut telah melakukan denuklirisasi menyeluruh dan terverifikasi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA