Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

AS dan Korsel Batalkan Latihan Militer Gabungan

Ahad 17 Nov 2019 17:07 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Gita Amanda

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in. AS dan Korsel sepakat membatalkan latihan militer gabungan demi kelanjutan proses perdamaian dengan Korut.

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in. AS dan Korsel sepakat membatalkan latihan militer gabungan demi kelanjutan proses perdamaian dengan Korut.

Foto: Kim Hong-ji/Pool Photo via AP
Penundaan latihan militer guna memajukan proses perdamaian yang terhenti dengan Korut

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) memutuskan menunda latihan bersama mereka. Hal itu dilakukan guna memajukan proses perdamaian yang terhenti dengan Korea Utara (Korut).

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan meskipun latihan militer bersama ditunda pasukan AS dan Korsel akan tetap berada dalam kondisi siaga tinggi. Namun dia membantah bahwa keputusan untuk menunda latihan adalah konses bagi Korut.

"Saya tidak melihat ini sebagai konsesi. Saya melihat ini sebagai upaya iktikad baik untuk memungkinkan perdamian. Saya pikir menciptakan lebih banyak ruang bagi diplomat kami untuk mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi semenanjung (Korea) sangat penting," kata Esper setelah melakukan pertemuan trilateral dengan menteri pertahanan Korsel dan Jepang di Bangkok, Ahad (17/11), seperti dilansir Reuters.

Dia berharap Korut akan menanggapi isyarat tersebut. "Kami mendorong Korut untuk menunjukkan niat baik yang sama dengan mempertimbangkan keputusan untuk melakukan pelatihan dan pengujian. Kami juga mendesak Korut untuk kembali ke meja perundingan tanpa prasyarat dan keraguan," ucapnya.

Sementara Menteri Pertahanan Jepang Taro Kono memperingatkan tentang optimisme terhadap Korut. Dia menyerukan Korsel, AS, termasuk negaranya untuk memastikan kesiapan militer.

"Tidak ada yang bisa optimis tentang Korut. Korut telah berulang kali meluncurkan lebih dari 20 rudal tahun ini, termasuk jenis baru  rudal balistik, serta rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam," ujar Kono.

Korut mengatakan pihaknya telah mencoba menafsirkan penyesuaian AS tentang latihan militer bersama secara positif. Namun resolusi baru-baru ini tentang hak asasi manusia menunjukkan Washington tak memiliki ketulusan dalam pembicaraan mendatang.

"Bahkan jika dialog terbuka, masalah nuklir tidak akan pernah dibahas, sebelum masalah penarikan kebijakan AS yang bermsuhan dimasukan dalalm agenda untuk meningkatkan hubungan dengan kami," kata Kementerian Luar Negeri Korut.

Sebelumnya Korut telah mengatakan bahwa peluang perundingan denuklirisasi dengan AS kian menipis. "Kami telah memberi AS cukup banyak waktu dan kami menunggu jawaban pada akhir tahun ini, dari beberapa jenis hasil. Namun saya harus mengatakan bahwa jendela peluang ditutup setiap hari," kata kepala departemen Amerika Utara di Kementerian Luar Negeri Korut Jo Chol Su pekan lalu.

Dia mengatakan negaranya masih siap mengadakan pembicaraan dengan AS. Tapi Korut tak tertarik jika tidak ada hasil dari perundingan tersebut. "Jika ada elemen konstruktif, sinyal konstruktif, kami selalu siap untuk bertemu setiap saat. Namun jika sebuah pertemuan sekali lagi hanya untuk berbicara, jika kita tak dapat mengharapkan hasil nyata, maka kita tidak tertarik untuk hanya berbicara," ujar Jo.

Pada Oktober lalu, AS dan Korut telah melanjutkan pembicaraan denuklirisasi Semenanjung Korea di Swedia. Korut mengklaim negosiasi tersebut kembali berujung kegagalan. Utusan nuklir Korut Km Myong Gil mengatakan bahwa negosiasi tersebut belum memenuhi harapan dan akhirnya terhenti kembali. “AS meningkatkan harapan dengan menawarkan saran seperti pendekatan yang fleksibel, metode baru dan solusi kreatif, tapi mereka sangat mengecewakan kami,” kata dia kepada awak media di luar Kedutaan Besar Korut di Swedia.

Menurutnya, AS masih mempertahankan pendekatan lama dalam perundingan. “AS tidak akan melepaskan sudut pandang dan sikap lama mereka,” ujar Kim Myong Gil.

Perundingan denuklirisasi antara AS dan Korut yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada Februari lalu diketahui berakhir tanpa kesepakatan. Hal itu disebabkan karena kedua belah pihak mempertahankan posisinya tentang penerapan sanksi.

Korut, yang telah menutup beberapa situs uji coba rudal dan nuklirnya, meminta AS mencabut sebagian sanksi ekonominya. Namun AS tetap berkukuh tak akan mencabut sanksi apa pun kecuali Korut telah melakukan denuklirisasi menyeluruh dan terverifikasi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA