Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Terapi Mati, Cara Warga Korea Menghargai Kehidupan

Senin 18 Nov 2019 03:42 WIB

Red: Friska Yolanda

Terapi mati dan merasakan sensasi tidur di peti mati yang digelar Hyowon Healing Center di Seoul, Korea Selatan

Terapi mati dan merasakan sensasi tidur di peti mati yang digelar Hyowon Healing Center di Seoul, Korea Selatan

Foto: Reuters
Tingkat bunuh diri Korea Selatan hampir dua kali lipat rata-rata dunia pada 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan menawarkan 'terapi mati' bagi warganya. Hal ini mereka lakukan untuk lebih menghargai kehidupan yang mereka miliki.

Hyowon Healing Center membuka layanan kematian sejak 2012, bertujuan untuk meningkatkan motivasi seseorang untuk hidup dengan melakukan simulasi mati. Setidaknya sudah 25 ribu orang berpartisipasi dalam kuburan massal tersebut.

"Begitu Anda sadar akan kematian, mengalaminya, Anda akan melakukan pendekatan baru terhadap kehidupan," ujar Cho Jae-hee, partisipan berusia 75 tahun usai melakukan simulasi kematian.

Puluhan orang mengikuti simulasi ini, mulai dari remaja hingga pensiunan. Mereka mengenakan pakaian kematian, mengambil foto kematian, menulis surat wasiat terakhir dan berbaring di peti mati tertutup selama 10 menit.

Mahasiswa Universitas Choi Jin-kyu mengatakan waktu di peti mati membantunya menyadari melihat orang lain sebagai kompetitor. Peserta 28 tahun itu menambahkan ia akan memulai bisnis sendiri setelah lulus alih-alih masuk pasar kerja yang sangat kompetitif.

Korea Selatan berada di peringkat ke-33 dari 40 negara yang disurvei Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Indeks Kehidupan yang Lebih Baik. Banyak anak muda Korea Selatan yang berharap besar pada pendidikan dan pekerjaan. Dimana pada akhir-akhir ini keduanya telah dirusak oleh ekonomi yang melambat dan tingginya pengangguran.

Pada 2016, tingkat bunuh diri di Korea Selatan mencapai 20,2 persen per 100 ribu penduduk. Rasio ini hampir dua kali lipat rata-rata global, 10,53 persen, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA