Ahad 24 Nov 2019 19:29 WIB

Warga Hong Kong Antusias Ikuti Pemilihan Dewan Distrik

Jumlah warga Hong Kong yang memberikan suaranya dalam pemilihan kali ini meningkat.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Nidia Zuraya
Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam.
Foto: AP Photo/Vincent Yu
Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG--Jumlah orang yang memilih dalam pemilihan dewan distrik Hong Kong pada Ahad (24/11) ini dipandang sebagai ujian atas dukungan kepada kepala pemerintah kota Carrie Lam. Hal ini dikarenakan pemilihan kali ini digelar saat unjuk rasa pro-demokrasi belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Data pemerintah menunjukkan lebih dari 2,3 juta orang telah memberikan suaranya sejak pukul 05.30 pagi. Angka turn out sebesar 56 persen saat pemilihan akan ditutup. Tampaknya masyarakat didorong oleh gejolak politik.

Baca Juga

Sebab empat tahun yang lalu hanya ada sekitar 1,47 juta orang yang bersedia memberikan suaranya dalam pemilihan dewan distrik. Hasil pertama pemungutan suara akan dikeluarnya sebelum tengah malam ini.

Salah satu pemilih bernama Tsz berusia 30 tahun mengatakan jumlah pemilih menunjukkan semangat rakyat Hong Kong. "Tingginya angka turn out, jelas mencerminkan harapan rakyat Hong Kong untuk memiliki hak pilih universal yang sejati," katanya.

Setelah memasukan surat suara ke dalam kotak. Lam yang didukung Beijing mengatakan pemerintahannya akan 'lebih intensif lagi' mendengar pandangan dewan distrik.

"Saya berharap stabilitas dan ketenangan seperti itu tidak hanya di hari pemilihan, tapi juga menunjukkan semua orang tidak ingin Hong Kong kembali jatuh dalam situasi yang kacau lagi," kata Lam.

Unjuk rasa di Hong Kong awalnya digelar sebagai protes terhadap rancangan undang-undang ekstradiksi yang dapat membuat seorang tersangka diadili di China. Tapi tuntutan unjuk rasa itu dengan cepat berubah menjadi demokrasi sepenuhnya. Gejolak politik ini menjadi ancaman terbesar bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia mulai berkuasa pada tahun 2012 lalu.

Para pengunjuk rasa beberapa kali memaksa masuk ke gedung pemerintah. Menutup bisnis dan sekolah-sekolah. Memicu polisi menggunakan gas air mata, peluru karet dan water canon untuk merespon bom molotov dan batu yang dilemparkan pengunjuk rasa.

Di hari pemilihan jumlah polisi yang berjaga tampak sedikit. Ming Lee, seorang pekerja di event production mengatakan ia berharap tingginya angka turn out akan menguntungkan kelompok pro-demokrasi yang  berusaha mendapatkan kursi yang selama ini dikuasai pendukung China.

"Saya berharap suara ini dapat melawan balik suara yang pro-kemapanan, jadi memberikan lebih banyak suara ke pro demokrasi, masalah sosial mendorong rakyat untuk memilih dan fokus pada isu politik," kata perempuan berusia 26 tahun itu. 

Dewan distrik mengendalikan beberapa anggaran dan memutuskan sejumlah isu. Seperti kebijakan daur ulang dan kesehatan publik. Sebanyak 1,101 kandidat memperebutkan 452 kursi dan sebanyak 4,1 juta daftar pemilih.

Jika orang-orang yang pro-demokrasi mendapatkan kendali. Mereka dapat mengamankan enam kursi di Dewan Legislatif Hong Kong. Mereka juga akan memiliki 117 kursi dari 1.200 panel yang memilih kepala pemerintah.

"Kami belum tahu, jika pada akhirnya, demokrat bisa memenangkan mayoritas, tapi saya berharap warga Hong Kong dapat memilih untuk masa depan Hong Kong," kata Jimmy Sham, kandidat dari Civil Human Rights Front yang menggelar beberapa unjuk rasa anti-pemerintah.

Manager Restoran Jeremy Chan memandang pemilihan ini memberikan pendukung Beijing untuk menyuarakan opini mereka. Laki-laki 55 tahun itu menggambarkan pengunjuk rasa sebagai perusuh.

"Mereka yakin mereka berjuang untuk demokrasi, berjuang untuk Hong Kong, tapi perusuh hanya mendengarkan apa yang ingin mereka dengarkan," kata Chan.

Ia menyinggung tentang vandalisme yang kerap dilakukan pengunjuk rasa terhadap bisnis yang dianggap pro-Beijing. "Kebebasan berbicara sudah kalah," katanya.

Pada Ahad ini juga hari ketujuh kebuntuan bentrokan di Polytechnic University. Kampus itu dikepung polisi. Sementara beberapa pengunjuk rasa bersembunyi di dalamnya.

"Pemilihan dewan distrik hampir seperti referendum dalam beberapa bulan aktivitas sosial, kebebasan pribadi saya untuk memilih telah dilanggar," kata pengunjuk rasa mengenakan baju olahraga universitas dan topeng warna merah.

Pengunjuk rasa takut bila ia keluar dari kampus maka polisi akan menangkapnya. Pengunjuk rasa marah dengan apa yang mereka sebut campur tangan China dalam kebebasan yang dijanjikan saat Inggris menyerahkan mereka pada tahun 1997 lalu. Mereka juga mengatakan mereka merespon brutalitas polisi.

China membantah melakukan intervensi dan mengatakan masih berkomitmen dalam formula 'satu negara, dua sistem' yang memberikan otonomi ke Hong Kong. Polisi mengatakan mereka telah menahan diri dalam menghadapi potensi serangan mematikan.

Kepala Komisi pemilihan umum Barnabus Fung mengatakan setidaknya ada 3.638 keluhan yang diajukan. Sebagian besar berkaitan dengan panjangnya antrian tempat pemungutan suara.

Pendukung pro-demokrasi terkenal Alexandra Wong yang mengatakan pemilihan ini 'hari yang dirindukan'. Pada bulan Agustus lalu perempuan yang dikenal dengan Grandma Wong ini ditahan di perbatasan kota Shenzen, kota perbatasan Hong Kong-China.

"Karena saya ditahan di Shenzhen, suara saya terbuang sia-sia, ini melukai hati saya, tolong taburkan minyak untuk saya dan pilih, semuanya terbaik! Hati-hati!!,"tulisnya dalam sebuah pesan di halaman Facebook Tembok Lennon Gerakan Demokrasi Hong Kong.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement