Ahad 24 Nov 2019 23:14 WIB

Jumlah Pemilih Hong Kong Catat Rekor

Jumlah warga Hong Kong yang memberikan suaranya dalam pemilihan kali ini meningkat.

Petugas masjid dan warga membersihkan Kowloon Masjid and Islamic Centre dari cairan berwarna biru di distrik Tsim Sha Tsui di Hong Kong, Senin (21/10)
Foto: Stringer
Petugas masjid dan warga membersihkan Kowloon Masjid and Islamic Centre dari cairan berwarna biru di distrik Tsim Sha Tsui di Hong Kong, Senin (21/10)

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Rekor jumlah pemberi suara dalam pemilihan dewan distrik Hong Kong dipandang sebagai ujian dukungan bagi Pemimpin Eksekutif Carrie Lam setelah aksi unjuk rasa pro-demokrasi selama enam bulan menggoncangkan kota tersebut. Data pemerintah menunjukkan lebih dari 2,6 juta orang atau 63 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar memberikan suara hingga pukul 19.30 waktu setempat.

Masih ada tersisa waktu tiga jam hingga tempat-tempat pemungutan suara ditutup. Sekitar 1,47 juta orang memberikan suara dalam pemilihan distrik empat tahun lalu.

Diperkirakan hasil awal pemilihan akan diketahui menjelang tengah malam. Jumlah pemilih itu menunjukkan tekad orang-orang, kata warga bernama Tsz, 30 tahun, yang bekerja di industri jasa.

"Tingkat jumlah orang-orang yang memberi suara tinggi ... mencerminkan harapan rakyat Hong Kong bagi hasil pemilihan universal yang murni," kata pria itu.

Lam juga memberikan hak suaranya. Tokoh yang didukung Beijing itu berjanji pemerintahannya akan mendengarkan "lebih intensif" pandangan-pandangan dari dewan-dewan distrik.

"Saya berharap suasana stabil dan tenang seperti ini tidak hanya pada saat pemilihan hari ini tetapi menunjukkan bahwa siapa pun tidak menginginkan Hong Kong terperosok ke dalam situasi kacau lagi," kata Lam.

Protes mulai terjadi akibat rancangan undang-undangan ekstradisi, yang sekarang sudah dicabut. Berdasarkan RUU itu, orang-orang dapat dikirim ke China daratan untuk diadili tetapi aksi segera berubah menjadi seruan-seruan bagi demokrasi penuh. Protes tersebut menjadi tantangan terbesar bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia naik ke tampuk kekuasaan tahun 2012.

Ming Lee, 26 tahun, yang bekerja di sektor produksi acara, berharap tingkat jumlah pemilih yang tinggi akan memberikan keuntungan bagi kubu pro-demokrasi yang bertarung merebut kursi-kursi yang didominasi para calon pro-Beijing.

"Saya berharap pemungutan suara ini dapat melawan suara kubu pro-kemapanan sehingga membawa lebih banyak suara dari kelompok demokrat," ujar dia. "Masalah-masalah sosial mendorong orang-orang untuk memberikan suara dan fokus pada isu-isu politik."

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement