Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Jejak Sejarah Banyuwangi-Australia Mulai Diteliti

Selasa 10 Dec 2019 01:39 WIB

Rep: jatimnow.com/ Red: jatimnow.com

Jejak Sejarah Banyuwangi-Australia Mulai Diteliti

Jejak Sejarah Banyuwangi-Australia Mulai Diteliti

Kabupaten Banyuwangi disinyalir menyimpan jejak sejarah dengan Kota Broome, Australia

jatimnow.com - Kabupaten Banyuwangi disinyalir menyimpan jejak sejarah dengan Kota Broome, Australia Barat. Jejak itu sedang diteliti oleh Dr Thor Kerr dari Curtin University Perth Australia dan Irfan Wahyudi dari Universitas Airlangga (Unair).

Dosen Universitas Airlangga yang juga Kepala Divisi Program Internasional Unair Irfan Wahyudi mengatakan, kedua kota ini pernah terkoneksi pada awal abad 18. Melalui jalur kabel telegram bawah laut yang dibangun Inggris mulai dari Eropa hingga Australia.

Irfan menyebut, dalam penelitian bersama Dr. Thor Kerr, terdapat bukti-bukti tertulis keterkaitan antar dua kota yang dilihat dari adanya bangunan yang diduga mirip.

"Berangkat dari situlah, tim kami dari Unair dan Curtin University ingin meneliti lebih dalam adanya keterkaitan tersebut. Kami akan menelusuri kembali lewat penelitian Memori Kolektif Banyuwangi dan Broome," terang Irfan, di Lounge Pemkab Banyuwangi, Senin (9/12/2019).

Menurut Irfan, terdapat kisah historis yang cukup kuat antara Broome dengan Banyuwangi yang pernah terhubung pada 1889 melalui kabel telegram bawah laut. Kabel ini ditarik dengan kapal selama 10 hari.

Pada masa itu, lanjut Irfan, Australia berada dalam pendudukan Inggris. Kabel telegram itu berfungsi menyambungkan orang-orang di Inggris maupun Australia untuk berkomunikasi. Terutama berhubungan dengan sanak famili mereka.

"Kabel itu sendiri terbentang mulai Eropa di Inggris melalui Afrika sampai Timur Tengah dan India. Dari India menyambung sampai Singapura lalu masuk ke Jawa melalui Batavia terus menuju jalur Daendles (Panarukan-Situbondo) hingga sampai ke Banyuwangi. Dari Banyuwangi, lalu jalurnya langsung menuju Broome. Ada juga yang ke Darwin tapi tidak direct," papar Irfan.

Irfan melanjutkan, bangunan kantor operator yang ada di Banyuwangi adalah asrama Inggrisan. Bangunan tersebut memiliki kesamaan arsitektur dengan kantor gedung yang menjadi kantor operator di Broome dulu.

"Kemarin waktu ditunjukkan Bupati Banyuwangi Azwar Anas foto Inggrisan dan maket renovasinya, saya langsung kaget. Ternyata mirip dan langsung saya tunjukkan foto di ponsel saya ke Bupati Anas kemiripannya. Ada kesamaan arsitekturnya," sambung Irfan.

Asrama Inggrisan adalah bangunan yang dulunya merupakan kantor dagang Inggris, British East India Company (BEIC). Bangunan itu kini menjadi bangunan cagar budaya Banyuwangi dan dalam proses revitalisasi dengan melibatkan arsitek Yori Antar.

Bukti lainnya, nama Banyuwangi tertera dengan jelas di dokumen kontrak pemasangan kabel bawah laut dengan tajuk 'Banyuwangie and Australia Western Cable'. Dokumen itu masih tersimpan rapi di museum Kota Broome.

"Hal ini semua yang memicu kami untuk melakukan penelitian. Semoga hasilnya bisa menggali lebih dalam sejarah kedua wilayah dan membangun kembali hubungan yang pernah sangat erat tersebut," tandasnya.

Melalui Asrama Inggrisan Banyuwangi, Ada Potensi Kerjasama dengan Australia

Sementara itu, Dr. Thor Kerr menjelaskan bahwa gedung operator di Broome saat ini masih terawat dengan baik. Gedung ini pernah menjadi gedung pengadilan dan catatan sipil, sekarang kosong tapi masih dilestarikan.

Penelitian ini nantinya akan menggali bukti-bukti keterkaitan itu lebih dalam. Mengingat, pada zaman itu banyak warga nusantara yang bekerja sebagai nelayan mutiara di Broome. Banyak juga masakan dengan cita rasa Asia di kawasan tersebut.

"Bahkan di sana ada festival kesenian The Window of Asia, jendela ke Asia. Jadi mereka itu tak sadar sebenarnya, mereka sangat terhubung dengan Asia tapi tak tahu memulai dari mana," jelas Thor yang juga Dosen Departemen Komunikasi dan Studi Budaya di Curtin University ini.

"Kami berharap kami bisa mengorek lagi, sehingga bisa menumbuhkan lagi semangat ada koneksi sebenarnya. Penelitian ini mendasari bagaimana orang Broome dan Banyuwangi memaknai atau mengingat, tapi kami juga melihat peluang besar untuk kedua kota ini bisa terhubung lagi," tutur Thorr.

Bupati Anas menyebut, temuan sejarah ini akan menambah kekayaan cerita bangunan Inggrisan menjadi semakin menarik.

"Selama ini Gedung Inggrisan adalah monumen sejarah yang penting bagi daerah, tapi pengetahuan kita tentang kisah historisnya masih sangat terbatas," ungkap Bupati Anas.

"Fakta ini akan memperkaya kami renovasi bangunan bersejarah ini. Kami semakin optimistis untuk renovasi gedung Inggrisan ini dikembalikan dengan akar sejarahnya," tambahnya.

Bupati Anas berharap, dengan terbukanya sejarah antara gedung Inggrisan di Banyuwangi dan Kota Broome menjadi babak baru hubungan Banyuwangi-Australia. Juga menjadi momentum terbukanya pariwisata Banyuwangi dengan Australia.

"Pastinya Asrama Inggrisan akan menjadi destinasi yang menarik untuk wisata daerah, semoga bisa mengundang wisawatan dari Australia ke Banyuwangi," ujar Bupati Anas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan jatimnow.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab jatimnow.com.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA