Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Warga Lebanon Ramai-Ramai Tarik Uang di Bank

Senin 27 Jan 2020 09:35 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Bendera Lebanon

Bendera Lebanon

Foto: bestourism,com
Warga Lebanon beralih investasi ke barang mewah setelah krisis ekonomi melanda.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Perbankan Lebanon telah memperketat kebijakan arus uang keluar dan membatasi penarikan uang tunai sejak krisis ekonomi melanda negara tersebut. Sebagian besar warga Lebanon berupaya untuk menarik uang mereka di bank dan beralih pada investasi terhadap barang-barang mewah atau menyimpan uang tunai di rumah.

Baca Juga

Banyak warga Libanon mulai menyimpan uang tunai di rumah selama berbulan-bulan sebelum protes anti-pemerintah meletus pada Oktober lalu. Di ibu kota Beirut, staf toko perhiasan mengatakan, para pelanggan membeli emas dan berlian untuk dijual lagi ke luar negeri. Sebagian besar toko perhiasan hanya menerima transaksi dengan uang tunai.

Sementara itu, di toko jam Rolex, penjualan hanya dilakukan jika separuh pembayarannya dalam dolar AS dan tunai. Seorang dokter, Rita membeli arloji Rolex senilai 10 ribu dolar AS dengan kartu kreditnya. Dia membeli arloji tersebut untuk melindungi sebagian tabungannya di bank.

"(Membeli arloji) lebih baik daripada menyimpan uang saya di bank," ujar Rita.

Sementar itu, seorang dokter lainnya, Abdallah membeli tiga mobil senilai lebih dari 80 ribu dolar AS dengan menggunakan lembar cek. Bank tempat dia menyimpan uang hanya membolehkan nasabah menarik 100 dolar AS per minggu. Dia khawatir kontrol di bank tersebut semakin diperketat.

"Saya tidak percaya pada bank," kata Abdallah.

Setiap pekan, para nasabah berbaris di bank untuk menarik uang mereka. Biasanya bank membatasi penarikan uang kurang dari 200 dolar AS per hari. Selain itu, bank juga memblokir transfer uang asing.

Kekurangan dolar telah mendorong harga pound Libanon merosot, dan kepercayaan terhadap sistem perbankan semakin buruk. Para nasabah berupaya menarik uang mereka dan memilih untuk berinvestasi dalam bentuk perhiasan, mobil, dan tanah. Mereka juga seringkali bertransaksi dengan kartu kredit atau lembar cek.

Ketika krisis mulai melanda Libanon, seorang ibu rumah tangga, Lucy khawatir tentang uang yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya di bank. Dia dan kedua putrinya mengambil uang tunai dan membeli emas seharga 50 ribu dolar AS.

"Ini adalah tabungan ayahku, saya tidak ingin menyimpannya di bank," ujar salah satu putri Lucy.

Beberapa orang mengatakan kepada Reuters, mereka takut terhadap kontrol perbankan yang lebih ketat, termasuk devaluasi pound Libanon. Bank sentral Lebanon memastikan keamanan simpanan uang para nasabah di bank. Sedangkan, kepala asosiasi perbankan Lebanon mengatakan, pembatasan penarikan uang bertujuan untuk menjaga kekayaan di negara tersebut.

Seorang penasihat di sebuah rumah lelang di Beirut mengatakan, setiap hari dirinya menerima panggilan telepon dari orang-orang yang ingin berinvestasi dalam lukisan. Penasihat yang tidak mau disebutkan namanya itu mengaku, ini pertama kalinya dia mendapatkan order dari orang-orang yang tidak mengetahui soal seni.

"Untuk pertama kalinya saya mendapat telepon dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang seni," ujarnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA