Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Rayakan Brexit, Inggris Luncurkan Koin 50 Pence Baru

Selasa 28 Jan 2020 01:03 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Christiyaningsih

Bendera Inggris dan Uni Eropa. Koin 50 pence sterling (sekitar Rp 9.400) yang baru dicetak diumumkan oleh Kanselir Inggris, Sajid Javid. Ilustrasi.

Bendera Inggris dan Uni Eropa. Koin 50 pence sterling (sekitar Rp 9.400) yang baru dicetak diumumkan oleh Kanselir Inggris, Sajid Javid. Ilustrasi.

Foto: Reuters
Koin anyar ini dibuat untuk merayakan Inggris yang akan meninggalkan Uni Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Koin 50 pence sterling (sekitar Rp 9.400) yang baru dicetak diumumkan oleh Kanselir Inggris, Sajid Javid. Koin anyar ini dibuat untuk merayakan Inggris yang akan meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari.

Koin ini harus dilebur kembali karena saat dibuat sebelumnya koin ini mencantumkan tanggal Brexit pada Oktober 2019. Namun Inggris gagal meninggalkan blok tahun lalu dan diundur menjadi akhir bulan ini.

Sebanyak tiga juta koin yang bertuliskan "Damai, kemakmuran, dan persahabatan dengan semua bangsa" akan memasuki peredaran pada Jumat (31/1) mendatang. Sebanyak tujuh juta koin lagi akan menyusul dalam beberapa bulan mendatang.

"Koin ini menandai awal babak baru yang menarik dalam sejarah Inggris. Mari kita menantikan dengan percaya diri dan mendorong potensi besar negara besar kita," kata Said Javid di Twitter dilansir Euronews, Senin (27/1).

Parlemen Eropa diperkirakan akan menyetujui kesepakatan Brexit yang ditawarkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Rabu (29/1). Ini membuka jalan bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa pada Jumat 31 Januari mendatang.

Hampir empat tahun sejak Inggris melakukan pemilihan suara dengan selisih tipis untuk meninggalkan Uni Eropa. Dalam kurun waktu tersebut, Inggris telah memiliki dua pemilihan dan tiga perdana menteri.

Baca Juga

Mantan pemimpin David Cameron yang berkampanye untuk tetap di Uni Eropa, mundur setelah pemungutan suara pada 2016. Sedangkan Theresa May mundur pada 2019 yang kemudian digantikan oleh Boris Johnson.

Pada tahun yang penuh gejolak dalam politik Inggris, Johnson di Brexit telah mengalami pembelotan dari dalam partainya sendiri. Namun, ia berhasil meraih banyak suara selama pemilihan cepat pada Desember. Johnson memenangkan mayoritas besar di parlemen dan hampir menjamin bahwa ia akan dapat menarik Inggris keluar dari UE.

Setelah pemilihan, ia dengan mudah memaksa RUU Brexit-nya melalui kedua majelis parlemen dan sekarang yang tersisa adalah UE untuk menyetujuinya pada Rabu. Kemudian mulailah proses kompleks negosiasi kesepakatan perdagangan dengan Eropa, yang harus dicapai sebelum akhir 2020.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA