Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

WHO Peringatkan Virus Corona Bisa Mewabah ke Seluruh Dunia

Kamis 27 Feb 2020 08:56 WIB

Red:

.

.

Semua negara harus bersiap menghadapi potensi wabah virus corona.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan Virus Corona atau COVID-19 berpotensi menjadi wabah yang menyebar ke seluruh dunia. Situasinya saat ini belum mencapai tahap itu namun potensinya mengarah ke sana.

Baca Juga

Pernyataan WHO menyebutkan penyebaran virus tampaknya telah mencapai puncaknya di China. Namun menurut WHO, lonjakan kasus baru di negara lain sudah sangat memprihatinkan dan semua negara harus bersiap menghadapi "potensi wabah."

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan, puncak penyebaran virus di China terjadi antara 23 Januari hingga 2 Februari lalu, dan jumlah kasus baru di sana telah menurun.

"Virus ini dapat diatasi," ujarnya dalam jumpa pers di Jenewa, seraya memuji upaya China mencegah penyebaran virus melalui penutupan wilayah dan karantina yang skalanya belum pernah terjadi sebelumnya.

Penyebaran kasus di negara lain telah mendorong tindakan drastis yang serupa. Di Italia 11 kota ditutup dan Korea Selatan memerintahkan 2,5 juta warga Kota Daegu untuk tinggal di dalam rumah.

Namun penyebaran virus yang secara resmi dinamai sebagai COVID-19 terus berlangsung. Afghanistan, Bahrain, Irak, Kuwait dan Oman telah mengumumkan kasus pertama mereka pada Senin.

"Apakah virus ini berpotensi wabah? Tentu saja. Apakah kita sudah mencapai tahap itu? Dari penilaian kami, belum," kata Ghebreyesus.

China terus melakukan langkah-langkah pencegahan, termasuk menunda sidang tahunan parlemen negara itu pada Senin kemarin.

12 meninggal di Iran

Di Iran, kematian akibat terjangkit virus ini telah mencapai 12 kasus pada hari Senin, atau tercatat sebagai jumlah kematian tertinggi untuk suatu negara di luar China.

Ada kekhawatiran bahwa situasinya mungkin lebih buruk lagi, setelah kantor berita ILNA melaporkan bahwa di Kota Qom sedikitnya 50 orang telah meninggal dunia.

Pemerintah Iran membantah laporan itu, dan menyebutkan sejauh ini ada 64 orang terinfeksi.

Sebagai perbandingan, di China tercatat 2.592 yang meninggal dari sekitar 77.000 orang infeksi.

Michael Ryan, kepala program darurat kesehatan WHO, mengatakan timnya akan tiba di Iran pada Selasa.

Menurut dia, Iran "mungkin hanya mendeteksi kasus-kasus parah" karena epidemi itu masih pada tahap awal.

"Kita perlu memahami dinamika yang terjadi di Iran. Yang jelas ada festival keagamaan yang dihadiri banyak orang," katanya.

830 terinfeksi di Korsel

Korea Selatan juga mengalami peningkatan infeksi yang cepat sejak virus ini diketahui menyebar di sebuah kelompok agama di Daegu pekan lalu.

Pada hari Senin dilaporkan lebih dari 200 infeksi baru dan dua kasus kematian, sehingga total kasus terinfeksi sudah lebih dari 830 atau yang terbanyak di luar China.

Sejauh ini tercatat 8 orang meninggal karena virus mendorong Presiden Moon Jae-in meningkatkan status kewaspadaan ke level tertinggi.

Masa liburan sekolah telah diperpanjang secara nasional sementara 2,5 juta warga Daegu diminta untuk tetap berada dalam ruangan.

Sementara di Hong Kong mulai hari Selasa tidak akan menerima kedatangan dari Korsel.

Mongolia sebelumnya mengumumkan tidak akan mengizinkan penerbangan dari Korsel mendarat.

Berbicara di Jenewa, Menlu Korsel Kang Kyung-hwa memperingatkan negara lain agar tidak mengambil tindakan yang akan memicu kepanikan publik.

"Saya sangat prihatin dengan insiden xenophobia dan kebencian, tindakan imigrasi yang diskriminatif dan pemulangan secara sewenang-wenang," katanya.

200 terinfeksi di Italia

Ketakutan juga meningkat di Eropa setelah Italia melaporkan 4 kematian baru akibat virus ini hari Senin, sehingga jumlah korban meninggal menjadi 7 orang.

Lebih dari 200 orang terinfeksi di sana, menyebabkan pertandingan sepakbola Serie A ditunda selama akhir pekan.

Venice Carnival yang terkenal juga dipersingkat, dan beberapa pertunjukan Milan Fashion Week telah dibatalkan.

Lebih dari 50.000 warga kota-kota di Italia utara diminta untuk tetap berada dalam rumah, dan polisi bahkan mendirikan pos pemeriksaan.

Dampak penyebaran virus pada perekonomian dunia semakin berat, akibat banyaknya pabrik yang tutup di China.

Sementara itu dalam jumpa pers di Australia hari Selasa, PM Scott Morrison menyebutkan dampak virus ini bukan hanya terasa pada sektor pendidikan dan pariwisata tapi juga pada perekonomian negara itu.

Namun dia menyatakan sejauh ini "Tidak ada risiko besar penyebaran virus ini di Australia" dan sejauh ini tidak terjadi penyebaran virus dari manusia ke manusia.

Kasus-kasus terinfeksi yang terdeteksi di Australia, kata PM Morrison, semuanya dinyatakan negatif.

Simak berita-berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA