Rabu 26 Feb 2020 09:26 WIB

Wartawan Wall Street Journal Dilarang Liputan di Wuhan China

Wall Street Journal menerbitkan artikel yang diprotes China.

Red: Nur Aini
Seorang perawat memeriksa kondisi pasien corona di sebuah rumah sakit di Wuhan, China. Provinsi Hubei, China, melaporkan 630 kasus baru virus corona. Jumlah ini bertambah dari sehari sebelumnya 366 kasus baru.
Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP
Seorang perawat memeriksa kondisi pasien corona di sebuah rumah sakit di Wuhan, China. Provinsi Hubei, China, melaporkan 630 kasus baru virus corona. Jumlah ini bertambah dari sehari sebelumnya 366 kasus baru.

REPUBLIKA.CO.ID, WUHAN -- Seorang wartawan the Wall Street Journal Chao Deng yang masih bertahan di Wuhan, Provinsi Hubei, tidak diizinkan melakukan kegiatan liputan setelah kartu persnya dan dua rekannya yang bertugas di Beijing dicabut oleh pemerintah China.

"Terkait Chao Deng, kartu persnya telah dicabut dan dia saat ini masih berada di Wuhan. Atas pertimbangan kemanusiaan, kami tetap mengizinkannya tinggal di Wuhan, namun tidak diizinkan menulis berita atau wawancara. Kalau status isolasi Wuhan telah dicabut, dia harus pergi sesegera mungkin," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian dalam pernyataan tertulisnya.

Baca Juga

Chao bersama Wakil Kepala WSJ Biro China Josh Chin dan wartawan WSJ lainnya Philip Wen dicabut kartu persnya oleh pemerintah China terkait artikel berjudul "China is the Real Sick Man of Asia" dalam menggambarkan wabah COVID-19, yang berpusat di Wuhan. Ketiganya diperintahkan meninggalkan China paling lambat lima hari setelah keputusan tersebut dikeluarkan pada 19 Februari 2020.

Chao dan Josh berkewarganegaraan Amerika Serikat, sedangkan Philip warga negara Australia. Menurut Zhao, kata-kata "the real sickman" itu sangat menghina karena tulisan tersebut mengaitkan periode tertentu dalam sejarah China.

"(Artikel) WSJ itu telah memicu kemarahan orang-orang China karena melukai perasaan kami," tutur diplomat yang baru tiga hari ditunjuk sebagai jubir baru di Kemenlu China itu.

Atas pengusiran tersebut, pemerintah AS berencana melakukan tindakan balasan terhadap wartawan China.

"Para pejabat AS itu harus membaca email yang ditandatangani 53 karyawan WSJ di China bahwa ini bukan tentang independensi editorial atau perbedaan antara berita dan opini. Ini tentang pilihan yang keliru dari judul berita yang sangat ofensif terhadap banyak orang, tidak hanya di China," ujar Zhao menanggapi sikap AS tersebut.

Sebelum memutuskan pengusiran, pemerintah China telah mendesak WSJ untuk meminta maaf atas penerbitan artikel tersebut. Sampai berita ini diturunkan, jumlah kasus positif COVID-19 di China telah mencapai angka 77.785. Dari jumlah itu, sebanyak 2.666 orang meninggal dunia dan 27.421 orang dinyatakan sembuh.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement