Jumat 06 Mar 2020 12:17 WIB

AS dan China Berseteru Soal Penempatan Jurnalis

AS akan memangkas jumlah jurnalis China di negaranya.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
President Amerika Serikat, Donald Trump
Foto: AP
President Amerika Serikat, Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan ia berharap Beijing mengambil pendekatan yang lebih adil terhadap media asing AS dan negara lainnya yang bekerja di China. Pernyataan itu disampaikan setelah AS berencana memangkas jumlah jurnalis China yang diizinkan bekerja di AS.

"Di mana Partai Komunis China meningkatkan pengawasan, pelecehan dan intimidasi terhadap jurnalis independen dan kelas dunia kami, kami akan merespons hingga setara," kata Pompeo, Kamis (5/3).

Baca Juga

Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing memiliki hak untuk mengambil langkah balasan atas keputusan Washington mengurangi jumlah jurnalis China di AS. Pada Selasa (3/3), juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhou Lijian mengatakan langkah Washington akan memicu dampak negatif terhadap hubungan bilateral kedua negara.

Washington mengumumkan rencana tersebut pada Senin (2/3) lalu. Langkah itu diterapkan sebagai balasan atas 'intimidasi dan pelecehan terhadap jurnalis yang sudah lama' China lakukan.  

Pemerintah AS menyinggung tentang 'pembungkaman mendalam' segala bentuk laporan independen di dalam China. AS mengatakan serangan Beijing terhadap kebebasan berbicara lebih buruk dibandingkan beberapa dekade lalu.

AS membandingkannya dengan Uni Soviet di era Perang Dingin. Kebijakan itu akan mulai berlaku pada 13 Maret.

Jumlah jurnalis dari kantor berita Xinhua, stasiun televisi China Global Television Network, stasiun radio China Radio International dan surat kabar China Daily Distribution Corp yang saat ini mencapai 160 orang akan dipotong menjadi 100 orang. Duta besar China untuk PBB mengatakan langkah tersebut tidak 'pantas'.

Pada bulan lalu China mencabut visa tiga jurnalis Wall Street Journal yang berada di Beijing. Hal itu karena surat kabar itu menolak meminta maaf atas kolom yang berjudul Cina 'Orang Sakit Asia Sesungguhnya'.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement