Rabu 15 Jul 2020 22:17 WIB

Proyeksi Populasi Manusia di Dunia Menurun

Populasi dunia diprediksi akan mencapai 8,8 miliar orang pada 2100.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Maskot Manusia Covid saat memberikan sosialisasi kepada penumpang di Halte Transjakarta Harmoni, Jakarta, Rabu (15/7). Sosialisasi ini bertujuan untuk mengingatkan kepada penumpang Transjakarta untuk selalu menaati protokol kesehatan saat menggunakan transportasi publik. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Maskot Manusia Covid saat memberikan sosialisasi kepada penumpang di Halte Transjakarta Harmoni, Jakarta, Rabu (15/7). Sosialisasi ini bertujuan untuk mengingatkan kepada penumpang Transjakarta untuk selalu menaati protokol kesehatan saat menggunakan transportasi publik. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) pada Rabu (15/7) memprediksi bahwa Bumi akan menjadi rumah bagi 8,8 miliar orang pada 2100. Angka prediksi tersebut 2 miliar lebih sedikit dari proyeksi PBB saat ini sebab ilmuwan meramalkan perubahan yang dibentuk oleh menurunnya tingkat kesuburan dan populasi yang menua.

Tim peneliti internasional melaporkan di Jurnal Lancet bahwa pada akhir abad ini, 183 dari 195 negara akan jatuh di ambang batas yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat populasi. Lebih dari 20 negara termasuk Jepang, Spanyol, Italia, Thailand, Portugal, Korea Selatan dan Polandia diprediksi akan melihat jumlah populasi berkurang setidaknya setengahnya.

Baca Juga

China akan jatuh hampir sebanyak itu, dari 1,4 miliar orang saat ini menjadi 730 juta dalam 80 tahun. Sementara itu, Afrika Sub-Sahara akan bertambah tiga kali lipat menjadi sekitar 3 miliar orang, dengan Nigeria saja berkembang menjadi hampir 800 juta pada 2100, nomor dua setelah India 1,1 miliar.

Direktur utama Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) Christopher Murray di University of Washington, mengatakan, prakiraan tersebut menunjukkan kabar baik bagi lingkungan, dengan sedikit tekanan pada sistem produksi pangan dan emisi karbon yang lebih rendah, serta peluang ekonomi yang signifikan untuk bagian Afrika sub-Sahara.

"Namun, sebagian besar negara di luar Afrika akan melihat menyusutnya tenaga kerja dan membalikkan piramida populasi, yang akan memiliki konsekuensi negatif yang mendalam bagi perekonomian," ujar Murray dikutip laman Guardian, Rabu (15/7).

Kesimpulan studi tersebut mengklasifikasikan bagi negara-negara berpenghasilan tinggi dalam kategori ini yang merupakan solusi terbaik untuk mempertahankan tingkat populasi dan pertumbuhan ekonomi seperti kebijakan imigrasi yang fleksibel dan dukungan sosial untuk keluarga yang menginginkan anak.

"Namun, dalam menghadapi penurunan populasi ada bahaya yang sangat nyata bahwa beberapa negara mungkin mempertimbangkan kebijakan yang membatasi akses ke pelayanan kesehatan reproduksi, dengan konsekuensi yang berpotensi menghancurkan," kata Murray.

"Sangat penting bahwa kebebasan dan hak-hak perempuan berada di atas agenda pembangunan setiap pemerintah," ujarnya menambahkan. Layanan sosial dan sistem perawatan kesehatan juga perlu dirombak untuk mengakomodasi populasi yang jauh lebih tua.

Studi menemukan, bahwa ketika kesuburan turun dan harapan hidup meningkat di seluruh dunia, jumlah anak balita diperkirakan akan menurun lebih dari 40 persen persen, dari 681 juta pada 2017 menjadi 401 juta pada 2100. Di ujung lain spektrum, 2,37 miliar orang atau lebih dari seperempat populasi global akan mencapai 65 pada saat itu. Jumlah mereka yang lebih dari 80 akan meningkat dari sekitar 140 juta sekarang menjadi 866 juta.

Penurunan tajam dalam ukuran dan proporsi populasi usia kerja juga akan menimbulkan tantangan besar di banyak negara. "Masyarakat akan berjuang untuk tumbuh dengan lebih sedikit pekerja dan pembayar pajak," kata Stein Emil Vollset, seorang profesor di institut universitas untuk metrik kesehatan dan evaluasi.

Jumlah orang dengan usia kerja di China, semisal, akan turun dari sekitar 950 juta sekarang menjadi hanya lebih dari 350 juta pada akhir abad ini, atau penurunan 62 persen. Sementara, penurunan di India diproyeksikan tidak terlalu curam, dari 762 juta menjadi 578 juta.

Di Nigeria, sebaliknya, tenaga kerja aktif akan berkembang dari 86 juta hari ini menjadi lebih dari 450 juta pada 2100. Pergeseran tektonik ini juga akan mengubah susunan urutan dalam hal pengaruh ekonomi. Para peneliti juga memperkirakan bahwa pada tahun 2050, produk domestik bruto China akan melampaui Amerika Serikat, tetapi kembali ke tempat kedua pada 2100.

PDB India akan naik untuk menjadi ketiga di dunia, sementara Jepang, Jerman, Prancis dan Inggris akan tetap di antara 10 ekonomi terbesar di dunia. Brasil diproyeksikan turun dari peringkat kedelapan hari ini ke urutan 13, dan Rusia dari posisi nomor 10 ke posisi 14. Kekuatan sejarah Italia dan Spanyol, sementara itu, masing-masing turun dari 15 ke 25 dan ke 28.

Indonesia dapat menjadi ekonomi terbesar ke-12 secara global, sementara Nigeria yang saat ini ke-28 diproyeksikan akan masuk dalam 10 besar. "Pada akhir abad ini, dunia akan menjadi multi-polar, dengan India, Nigeria, China dan Amerika Serikat kekuatan yang dominan," kata tim peneliti, Richard Horton.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement