Senin 22 Mar 2021 17:20 WIB

11 Pejabat Myanmar Hadapi Sanksi Uni Eropa

Sebelas pejabat itu dinilai bertanggung jawab atas kekerasan terhadap demonstran.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Teguh Firmansyah
 Para pengunjuk rasa bersiap untuk membela diri saat mereka berkumpul di kotapraja Tarkata, Yangon, Myanmar Sabtu, 20 Maret 20201. Protes terhadap pengambilalihan militer bulan lalu berlanjut Sabtu di kota-kota di seluruh Myanmar meskipun ada tindakan keras oleh pasukan keamanan yang telah merenggut lebih dari 200 nyawa.
Foto: AP
Para pengunjuk rasa bersiap untuk membela diri saat mereka berkumpul di kotapraja Tarkata, Yangon, Myanmar Sabtu, 20 Maret 20201. Protes terhadap pengambilalihan militer bulan lalu berlanjut Sabtu di kota-kota di seluruh Myanmar meskipun ada tindakan keras oleh pasukan keamanan yang telah merenggut lebih dari 200 nyawa.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Uni Eropa akan menjatuhkan sanksi kepada 11 pejabat di Myanmar, karena tuduhan tindakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell.

"Kami akan mengambil sanksi terhadap 11 orang yang terlibat dalam kudeta dan penindasan para demonstran," kata Borrell ketika hendak memimpin pertemuan Menlu Uni Eropa, dikutip dari AP Senin (22/3) .

Baca Juga

Ia mengatakan, Junta militer Myanmar mencegah Parlemen bersidang pada 1 Februari lalu. Militer mengklaim bahwa pemilu November silam, yang dimenangkan oleh partai Aung San Suu Kyi secara mutlak dinodai oleh penipuan. Klaim tersebut juga ditegaskan oleh Komisi pemilihan yang mengkonfirmasi kemenangan itu, namun telah digantikan oleh junta.

Alhasil, kudeta tersebut menghambat laju demokrasi yang memang sudah tersendat selama lima periode di Myanmar. Dalam menghadapi pemogokan dan protes yang terus-menerus terhadap pengambilalihan, junta menanggapi dengan tindakan keras yang semakin meningkat dan upaya untuk membatasi informasi yang sampai ke dunia luar.

Hingga kini, akses internet dibatasi, surat kabar swasta dilarang terbit, dan pengunjuk rasa, jurnalis hingga politikus ditangkap dalam jumlah besar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement