Rabu 10 Nov 2021 13:04 WIB

Museum Holocaust Tuding China Mungkin Genosida Uighur

Parlemen negara Barat juga loloskan mosi yang mendeklarasikan China lakukan genosida

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Jumat (23/4/2021). Pemerintah China membantah klaim asing berdasarkan citra satelit yang menyebutkan  bahwa gedung tersebut merupakan penjara bagi warga dari kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.
Foto: ANTARA/M. Irfan Ilmie
Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Jumat (23/4/2021). Pemerintah China membantah klaim asing berdasarkan citra satelit yang menyebutkan bahwa gedung tersebut merupakan penjara bagi warga dari kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Museum Holocaust Amerika Serikat (AS) mengatakan bukti baru menunjukkan China mungkin 'melakukan genosida' pada minoritas Uighur. Tuduhan terbaru ini menuding Beijing telah melakukan kejahatan kemanusiaan paling serius.

AS sudah menyatakan tindakan pemerintah China pada minoritas muslim dan orang Turk yang mendiami wilayah barat Xinjiang sebagai genosida. Beijing membantah keras tuduhan tersebut.

Baca Juga

Dalam laporannyam Museum Holocaust AS menekankan praktik pengendalian paksa angka kelahiran dan pemindahan paksa proses persalinan warga Uighur ke wilayah China yang lain. Tahun lalu Museum Holocaust AS telah menyatakan telah terjadi pelanggaran kemanusiaan pada masyarakat Uighur.

"Baru-baru ini muncul informasi tambahan yang menandakan pemerintah China melakukan peningkatan melampaui kebijakan asimilasi paksa," kata museum dalam laporan tersebut seperti dikutip Channel News Asia, Rabu (10/11).

"United States Holocaust Memorial Museum sangat khawatir mungkin pemerintah China melakukan genosida pada masyarakat Uighur. Keseriusan serangan terhadap penduduk Uighur menuntut tanggapan segera dari komunitas internasional untuk melindungi para korban,” tambah mereka.

Namun laporan itu mencatat sebelumnya genosida ditentukan atas temuan pada upaya pembunuhan terhadap sebuah komunitas. "Mengingat laporan mengenai kematian Uighur di penahanan terbatas, saat ini terdapat tidak cukup bukti pemerintah China berniat membunuh orang Uighur dengan sistematis," kata museum.

Namun laporan tersebut menyinggung tentang sterilisasi dan kontrasepsi paksa. "(Hal ini menimbulkan) pertanyaan mengenai adanya niatan menghancurkan kelompok secara biologis, baik keseluruhan atau sebagian besar," tambah pernyataan Museum.  

Mereka mengatakan tidak cukup data yang dapat diverifikasi sebab China sengaja membatasi informasi. Museum mengutip laporan sebelumnya yang memperkirakan sekitar satu hingga tiga juta orang yang sebagian besar kelompok etnis Uighur di Xinjiang ditahan atas kebijakan asimilasi paksa dan dilarang menjalankan ibadah agama Islam.

China menolak tuduhan tersebut dan mengatakan mereka memberikan pelatihan vokasi. Tujuannya untuk menjauhkan masyarakat dari ekstremisme setelah terjadi beberapa serangan yang dilakukan milisi Uighur.

Mantan menteri luar negeri AS Mike Pompeo mengumumkan tindakan pemerintah China pada Uighur sebagai genosida di hari terakhirnya menjabat bulan Januari lalu. Penggantinya, Antony Blinken, mengatakan ia setuju dengan temuan tersebut.

Parlemen sejumlah negara Barat seperti Belgia, Inggris, Kanada, Republik Ceko, Lithuania, dan Belanda telah meloloskan mosi yang mendeklarasikan China melakukan genosida.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement