Jumat 03 Dec 2021 00:10 WIB

Putin Mengelak, AS Pegang Bukti Rusia akan Serang Ukraina

AS klaim pegang bukti Rusia membuat rencana untuk serangan skala besar di Ukraina

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Pasukan Rusia berbaris sebelum dimulainya latihan militer gabungan. AS klaim pegang bukti Rusia membuat rencana untuk serangan skala besar di Ukraina. Ilustrasi.
Foto:

AS mendesak kembalinya diplomasi berdasarkan perjanjian Minsk pada 2014 dan 2015. Ketika itu perjanjian melibatkan penarikan Rusia dan otonomi yang lebih besar untuk wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur.

Istana Kremlin mengatakan Putin akan segera mengadakan pertemuan puncak dengan Joe Biden. Gedung Putih telah mengisyaratkan terbuka untuk gagasan itu tetapi tidak ada tanggal yang disepakati. Pada Rabu (1/12), Putin mengusulkan diadakannya negosiasi untuk memastikan NATO tidak akan menambah pasukan baru di sepanjang perbatasan Rusia.

Putin Peringatkan NATO

Sebelumnya pada Selasa (30/11), Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan NATO agar tidak mengerahkan pasukan dan senjatanya ke Ukraina. Dia mengatakan itu merupakan garis merah bagi Rusia dan akan memicu respons yang kuat.

Putin menyebut Moskow khawatir tentang latihan NATO di dekat perbatasannya. Pernyataan itu mengomentari kekhawatiran Barat tentang dugaan niat Rusia untuk menyerang Ukraina.

Menurut Putin, ekspansi NATO ke arah timur telah mengancam kepentingan keamanan inti Rusia. Dia menyatakan keprihatinan bahwa NATO pada akhirnya dapat menggunakan wilayah Kiev untuk menyebarkan rudal yang mampu mencapai Moskow hanya dalam lima menit.

"Munculnya ancaman semacam itu merupakan ‘garis merah’ bagi kami. Saya berharap itu tidak akan sampai ke sana dan akal sehat dan tanggung jawab untuk negara mereka sendiri dan komunitas global pada akhirnya akan menang," kata Putin.

Presiden Rusia ini menambahkan negaranya telah dipaksa untuk melawan ancaman yang berkembang dengan mengembangkan senjata hipersonik baru. "Apa yang harus kita lakukan? Kami perlu mengembangkan sesuatu yang serupa untuk menargetkan mereka yang mengancam kami. Dan kita bisa melakukannya bahkan sekarang," ujarnya.

Menurut Putin rudal hipersonik baru yang akan memasuki layanan dengan angkatan laut Rusia awal tahun depan akan mampu mencapai target dalam waktu yang sebanding. "Itu juga hanya membutuhkan lima menit untuk menjangkau mereka yang mengeluarkan perintah," katanya.

Rudal jelajah hipersonik Zirkon ini mampu terbang dengan kecepatan sembilan kali kecepatan suara hingga jarak 1.000 kilometer. Senjata itu telah menjalani serangkaian tes, yang terbaru pada Senin (29/11).

Rusia mencaplok Semenanjung Krimea Ukraina pada 2014. Peristiwa itu terjadi setelah presiden yang bersahabat dengan Kremlin digulingkan dari kekuasaan oleh protes massa dan mendukung pemberontakan separatis yang pecah di timur Ukraina.

Awal tahun ini, lonjakan pelanggaran gencatan senjata di timur dan konsentrasi pasukan Rusia di dekat Ukraina memicu kekhawatiran perang. Namun, ketegangan mereda ketika Moskow menarik kembali sebagian besar pasukannya setelah manuver pada April.

Putin berpendapat untuk menghindari ketegangan, Rusia dan Barat harus merundingkan kesepakatan yang akan melindungi kepentingan keamanan masing-masing pihak. "Masalahnya bukan mengirim pasukan atau tidak, berperang atau tidak, tetapi membangun pembangunan yang lebih adil dan stabil serta memperhatikan kepentingan keamanan semua pemain internasional,” jawabnya ketika ditanya apakah Rusia akan menyerang Ukraina.

sumber : The Guardian/AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement