Kamis 09 Dec 2021 20:42 WIB

Laporan: Tentara Myanmar Bakar Belasan Warga Sipil Hingga Tewas

Tentara Myanmar dilaporkan kumpulkan warga dan mengingat mereka sebelum dibakar.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Dalam gambar yang dibuat dari video oleh Transborder News ini, asap mengepul dari kamp Tentara Myanmar dekat perbatasan Myanmar dan Thailand pada Selasa, 27 April 2021. Gerilyawan etnis Karen mengatakan mereka merebut pangkalan militer Myanmar pada hari Selasa dalam apa yang mewakili peningkatan moral tindakan bagi mereka yang menentang pengambilalihan militer atas pemerintah sipil negara pada bulan Februari.
Foto: Transborder News via AP
Dalam gambar yang dibuat dari video oleh Transborder News ini, asap mengepul dari kamp Tentara Myanmar dekat perbatasan Myanmar dan Thailand pada Selasa, 27 April 2021. Gerilyawan etnis Karen mengatakan mereka merebut pangkalan militer Myanmar pada hari Selasa dalam apa yang mewakili peningkatan moral tindakan bagi mereka yang menentang pengambilalihan militer atas pemerintah sipil negara pada bulan Februari.

REPUBLIKA.CO.ID  YANGON - Junta Myanmar dilaporkan menyerbu sebuah desa kecil bernama Done Taw di wilayah Sagaing, barat laut negara. Saksi mata mengatakan, junta mengumpulkan warga sipil di desa tersebut, dan mengikat tangan mereka. Ada yang menyebut mereka dibakar hidup-hidup sebagai pembalasan atas serangan terhadap konvoi militer.

Sebuah video setelah serangan Selasa (7/12) lalu menunjukkan 11 tubuh hangus terbakar. Beberapa orang diyakini remaja. Jasad hangus itu berbaring melingkar di tengah-tengah sisa-sisa gubuk di desa kecil tersebut.

Baca Juga

Kemarahan terhadap junta kemudian menyebar luas setelah foto-foto tersebar di media sosial. Ini merupakan serangan militer terbaru yang semakin brutal dalam upaya memadamkan pelawanan antipemerintah.

Pada Kamis (9/12), Human Rights Watch menyerukan komunitas internasional untuk memastikan komandan yang memberi perintah pembunuhan ditambahkan ke daftar sanksi yang ditargetkan. Lebih luas lagi, upaya ditingkatkan untuk memotong sumber pendanaan apa pun untuk militer.

"Kontak kami mengatakan ini hanya anak laki-laki dan remaja yang merupakan penduduk desa yang ditangkap di tempat yang salah pada waktu yang salah," kata juru bicara HRW, Manny Maung.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement