Rabu 12 Jan 2022 13:50 WIB

Pasukan Rusia Mulai Mundur dari Kazakhstan, AS Gembira

Pasukan yang dipimpin Rusia memulai proses penarikan pasukan dari Kazakhstan

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Dalam foto selebaran yang dirilis oleh Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia ini, kendaraan penjaga perdamaian Rusia meninggalkan bandara Almaty, Kazakhstan, Ahad, 9 Januari 2022. Pasukan yang dipimpin Rusia memulai proses penarikan pasukan dari Kazakhstan dalam dua hari.
Foto:

Tokayev menyebut Komite Keamanan Nasional (NSC) Kazakhstan tidak hanya gagal mencium bau ancaman tapi juga tidak bertindak dengan tepat selama gejolak unjuk rasa. Di beberapa kota, petugas keamanan meninggalkan gedung-gedung, senjata-senjata, dan dokumen rahasia.

Faktar Tokayev meminta bantuan pasukan yang dipimpin Rusia untuk membantu menstabilkan situasi ke ibukota Nur-Sultan memicu spekulasi misi pasukan itu untuk melindungi pemerintah dan Tokayev. Presiden tampaknya tidak percaya dengan pasukan keamanannya sendiri.

Tokayev memecat kepala NSC Karim Masimov pada 5 Januari lalu. Kemudian Masimov ditahan atas tuduhan pengkhianatan.

Pekan lalu, Tokayev meminta Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang dipimpin Rusia untuk mengirimkan pasukan mereka di puncuk unjuk rasa. Presiden itu menuduh pengunjuk rasa mencoba melakukan kudeta di negara kaya minyak tersebut.  

Ia mengatakan misi CSTO ke Kazakhstan merupakan operasi yang sah. Washington mempertanyakan durasi misi yang melibatkan 2.030 pasukan dan 250 perangkat militer tersebut sehingga menimbulkan respons keras dari Moskow. Tokayev menegaskan misi utama CSTO sudah selesai dengan berhasil. Mereka akan memulai fase penarikan pasukan dalam dua hari dan seluruh pasukan sudah mundur dalam 10 hari.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Ned Price mengatakan Washington menyambut baik penarikan pasukan aliansi pertahanan bekas Uni Soviet yang dipimpin Rusia, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) dari Kazakhstan. Menurut AS, Presiden Tokayev sudah selesai dengan sukses.

"(CSTO) harus menjaga komitmen mereka untuk segera meninggalkan Kazakhstan seperti yang diminta pemerintahnya," kata Price, Rabu (12/1/2022).

Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim kemenangan berhasil mempertahankan Kazakhstan dari apa yang menurutnya teroris yang didukung negara asing. Pihak berwenang mengatakan sebagian besar wilayah di negara berpopulasi 19 juta orang sudah kembali tertib.

Pihak berwenang Kazakhstan juga mengatakan hampir 10 ribu orang ditahan selama unjuk rasa. "Saat ini negara itu dalam teror yang tenang, semua orang ketakutan," kata aktivis hak asasi manusia Kazakhstan yang tinggal di Swedia, Botagoz Issayeva.

Ia mengatakan sekitar 50 aktivis turut ditahan dari rumah mereka dan belum terdengar kabarnya hingga saat ini. "Kami bahkan tidak tahu ke mana mereka dibawa dan di negara bagian mereka berada," kata Issayeva, wakil koalisi masyarakat sipil yang melobi Parlemen Eropa dan Kongres AS untuk menindak korupsi di Kazakhstan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement