Ahad 03 Apr 2022 20:05 WIB

Kazakhstan Tangkap Agen yang Rencanakan Bunuh Presiden

Seorang mata-mata asing diduga rencanakan serangan terhadap presiden Kazakhstan

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev berbicara selama pertemuan di Almaty, Kazakhstan, Rabu, 12 Januari 2022. Seorang mata-mata asing diduga rencanakan serangan terhadap presiden Kazakhstan. Ilustrasi.
Foto: AP/AMAN/Kazakhstan's Presidential Press
Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev berbicara selama pertemuan di Almaty, Kazakhstan, Rabu, 12 Januari 2022. Seorang mata-mata asing diduga rencanakan serangan terhadap presiden Kazakhstan. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, NUR-SULTAN – Komite Keamanan Nasional Kazakhstan mengatakan mereka telah menangkap seorang mata-mata asing. Dia diduga merencanakan serangan terhadap presiden dan pejabat-pejabat tinggi Kazakhstan lainnya.

“Seorang agen intelijen asing, seorang warga Kazakh, ditangkap pada 25 Maret di Nur-Sultan oleh dinas kontra-spionase,” kata Komite Keamanan Nasional Kazakhstan dalam sebuah pernyataan pada Ahad (3/4/2022).

Baca Juga

Menurut Komite Keamanan Nasional Kazakhstan, tersangka merencanakan serangan terhadap presiden dan sejumlah pejabat tinggi lain di negara tersebut. Tersangka pun dituding mempunyai rencana menyerang anggota layanan khusus dan pasukan keamanan.

Saat kediamannya digeledah, otoritas Kazakhstan menemukan sepucuk senjata buatan asing, obat-obatan, dan uang dalam jumlah cukup besar. Menurut Komite Keamanan Nasional Kazakhstan, tersangka telah mengaku pascaditangkap dan penyelidikan terorisme sudah dibuka.

Pada Januari lalu, Kazakhstan dilanda gelombang protes menyusul naiknya harga bahan bakar gas cair. Kerusuhan antara para pengunjuk rasa dan aparat keamanan tak terhindarkan. Lebih dari 200 orang tewas dalam serangkaian aksi demonstrasi di sana. Ketertiban mulai bisa dipulihkan saat Kazakhstan meminta bantuan Collective Security Treaty Organisation (CSTO), sebuah aliansi keamanan yang didukung Rusia.

Pemerintahan Presiden Kassym-Jomart Tokayev membingkai aksi rusuh oleh para pengunjuk rasa sebagai serangan “kelompok teroris”. Pemerintah Kazakhstan pun mengkritik liputan media asing tentang peristiwa tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement