Senin 17 Jan 2022 01:05 WIB

Perempuan Afghanistan Tuntut Taliban Penuhi Hak Pekerjaan dan Pendidikan

Perempuan Afghanistan menuntut kesetaraan dan keadilan

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Perempuan Afghanistan. Otoritas Taliban pada Ahad (26/12) mengeluarkan pedoman perjalanan bagi perempuan Afghanistan.
Foto: AP Photo/Mstyslav Chernov
Perempuan Afghanistan. Otoritas Taliban pada Ahad (26/12) mengeluarkan pedoman perjalanan bagi perempuan Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL – Puluhan perempuan Afghanistan kembali menggelar demonstrasi menuntut pemenuhan hak-hak mereka di bidang pekerjaan dan pendidikan kepada pemerintahan Taliban, Ahad (16/1/2022). Sekelompok anggota Taliban membubarkan aksi unjuk rasa tersebut.

Demonstrasi yang diikuti sekitar 20 perempuan Afghanistan itu berlangsung di depan Universitas Kabul. Mereka meneriakkan “kesetaraan dan keadilan” seraya membentangkan spanduk bertuliskan “hak-hak perempuan dan hak asasi manusia (HAM)”.

Baca Juga

Saat sedang melangsungkan aksinya, sekelompok anggota Taliban menyambangi lokasi demonstrasi. “Ketika kami berada di dekat Universitas Kabul, tiga kendaraan Taliban datang, dan anggota dari salah satu kendaraan menggunakan semprotan merica pada kami,” kata seorang pengunjuk rasa yang enggan dipublikasikan identitasnya, dikutip Al Arabiya.

Dia mengaku turut terkena semporatan merica tersebut. “Mata kanan saya mulai terasa panas. Saya memberi salah satu dari mereka ‘Tak tahu malu’, dan kemudian dia mengarahkan pistolnya ke saya,” ucapnya.

Seorang saksi di lokasi kejadian mengungkapkan, anggota Taliban turut merebut ponsel dari seorang pria yang merekam unjuk rasa tersebut. Para perempuan Afghanistan telah beberapa kali menggelar demonstrasi untuk menuntut pemenuhan hak mereka sejak Taliban berkuasa pada Agustus tahun lalu.

 

Pada 16 Desember tahun lalu, misalnya, puluhan perempuan Afghanistan di Kabul menggelar unjuk rasa untuk menuntut hak atas pendidikan, pekerjaan, dan perwakilan politik dari pemerintahan Taliban. Meski kegiatan protes publik secara efektif dilarang oleh pemerintahan Taliban, tapi otoritasnya memberikan izin bagi mereka untuk berunjuk rasa. Dalam aksinya, mereka meneriakkan, “makanan, karier, dan kebebasan”.

Di antara peserta aksi, ada pula yang mengacungkan papan bertuliskan tuntutan agar perempuan mendapatkan jabatan politik. Meskipun diizinkan untuk menggelar protes, mereka tak menampik tetap ada rasa ketakutan kepada pemerintahan Taliban. “Ketakutan selalu ada, tapi kita tidak bisa hidup dalam ketakutan. Kita harus melawan ketakutan kita,” kata Shahera Kohistan (28 tahun), salah satu perempuan yang berpartisipasi dalam aksi demonstrasi di Kabul. 

Baca: Ukraina Jadi Sasaran Peretas, NATO Gandeng untuk Pertahanan Siber

Sejak mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, Taliban belum memenuhi janjinya terkait perlindungan dan pemenuhan hak-hak wanita Afghanistan. Hak itu mencakup pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi atau perwakilan politik. Sebaliknya, Taliban justru memperkenalkan peraturan yang mengekang aktivitas wanita. Pada Desember tahun lalu, misalnya, Taliban memutuskan bahwa perempuan yang bepergian lebih dari 72 kilometer harus ditemani anggota keluarga dekat pria. 

Baca: Korea Selatan Longgarkan Pembatasan Covid-19

Baca: Gunung Bawah Laut Tonga Meletus, Jepang Hingga Kanada Terbitkan Peringatan Tsunami

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement