Sabtu 05 Mar 2022 12:00 WIB

Balas Pemblokiran Media Beritanya, Rusia Tutup Akses ke Facebook-Twitter

Media berita Rusia telah diblokir dari platform media sosial Facebook hingga Twitter.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Reiny Dwinanda
Ikon Facebook dan WhatsApp terlihat pada layar ponsel. Facebook dan platform Meta lain, Instagram, telah menghapus Russia Today (RT) dan Sputnik di Uni Eropa pada pekan ini. Sebagai balasan, Rusia juga blokir akses Facebook-Twitter di negaranya.
Foto: AP/Martin Meissner
Ikon Facebook dan WhatsApp terlihat pada layar ponsel. Facebook dan platform Meta lain, Instagram, telah menghapus Russia Today (RT) dan Sputnik di Uni Eropa pada pekan ini. Sebagai balasan, Rusia juga blokir akses Facebook-Twitter di negaranya.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia telah sepenuhnya memblokir akses ke Facebook sebagai bentuk balasan atas platform yang membatasi media milik negara. Regulator komunikasi negara Rusia Roskomnadzor mengatakan, pihaknya juga telah menutup sepenuhnya akses ke Twitter.

Facebook dan platform Meta lain, Instagram, telah menghapus Russia Today (RT) dan Sputnik di Uni Eropa pada pekan ini. Di sisi lain, Roskomnadzor sebagai pengawas mengatakan, ada 26 kasus diskriminasi terhadap media Rusia oleh Facebook sejak Oktober 2020 dengan akses terbatas pada layanan berita yang didukung negara, seperti Russia Today dan kantor berita RIA.

Baca Juga

Presiden Urusan Global Facebook, Meta, Nick Clegg mengatakan, pemblokiran platform akan memutus jutaan warga Rusia biasa dari sumber informasi yang dapat dipercaya. Selain itu, pemblokiran juga menghalangi mereka berkomunikasi dengan teman dan keluarga.

"Kami akan terus melakukan segala hal yang kami bisa untuk memulihkan layanan kami sehingga tetap tersedia bagi orang-orang untuk mengekspresikan diri dan mengatur tindakan dengan," kata Clegg.

Langkah itu dilakukan ketika Rusia pada Jumat (4/3/2022) mengesahkan undang-undang tentang penyebaran laporan palsu. Undang-undang itu dicap oleh kedua majelis parlemen yang dikendalikan Kremlin dan ditandatangani oleh Presiden Vladimir Putin.

Menurut undang-undang, mereka yang menyebarkan informasi yang bertentangan dengan narasi pemerintah Rusiah tentang perang akan dipenjara hingga 15 tahun. Sebagai tanggapan, beberapa media akan menghentikan sementara pekerjaan mereka di Rusia untuk mengevaluasi situasi.

CNN termasuk yang akan menghentikan siaran di Rusia. Sementara itu, Bloomberg dan BBC mengatakan akan menangguhkan sementara pekerjaan jurnalis mereka di sana.

Rusia memperluas upaya untuk mengontrol penyebaran informasi tentang invasi ke Ukraina dan melawan sumber berita independen. Ini mengikuti pemblokiran yang diberlakukan sebelumnya pada Jumat di BBC, Voice of America yang didanai pemerintah AS, dan Radio Free Europe/Radio Liberty, lembaga penyiaran Jerman Deutsche Welle, dan situs web Meduza yang berbasis di Latvia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement