Rabu 06 Apr 2022 13:30 WIB

Shanghai Buat Pengecualian Kebijakan Pemisahan Anak-Anak yang Covid-19

Wali anak berkebutuhan khusus yang terinfeksi Covid-19 dapat ajukan permohonan khusus

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha
Warga berjalan di sepanjang jalan ritel yang hampir kosong di Shanghai, China, Selasa, 29 Maret 2022.
Foto: AP/Chen Si
Warga berjalan di sepanjang jalan ritel yang hampir kosong di Shanghai, China, Selasa, 29 Maret 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kota Shanghai di Cina merevisi kebijakan pada pemisahan orang tua dari anak-anak yang tertular Covid-19. Pejabat kota Shanghai pada Rabu (6/4/2022) mengatakan, wali anak berkebutuhan khusus yang terinfeksi Covid-19 dapat mengajukan permohonan untuk menemani mereka.

Pejabat kesehatan Shanghai, Wu Ganyu mengatakan pemerintah akan mulai mengizinkan wali dari beberapa anak yang terinfeksi dengan kebutuhan khusus untuk menemani mereka. "Namun, mereka harus menandatangani surat yang menyatakan bahwa mereka menyadari risikonya," ujarnya.

Baca Juga

Mereka juga akan diminta untuk mematuhi langkah-langkah perlindungan seperti masker dan tidak berbagi barang-barang rumah tangga dengan anak-anak. "Pihak berwenang akan mengerahkan lebih banyak staf medis khusus untuk menangani penerimaan anak-anak tersebut dan akan membangun area khusus bagi mereka untuk tinggal guna meningkatkan perawatan," katanya.

Sebelumnya Shanghai telah memisahkan anak-anak positif Covid-19 dari orang tua mereka dengan alasan langkah-langkah pencegahan pandemi. Strategi eliminasi Cina melawan Covid-19 membuatnya menguji, melacak, dan mengkarantina semua kasus secara terpusat.

Dalam menghadapi meningkatnya kritik publik, pemerintah mengatakan pada Senin akan mengizinkan anak-anak untuk ditemani oleh orang tua mereka jika orang tua mereka juga terinfeksi, tetapi mereka akan tetap memisahkan mereka jika tidak. Hal ini memicu kemarahan publik lebih lanjut.

Shanghai telah mengalami lonjakan kasus dalam beberapa pekan ini. Pemerintahnya pun memperpanjang karantina wilayah untuk mengekang penyebaran virus.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement