Kamis 15 Sep 2022 16:15 WIB

Pasukan Militer Kerajaan Inggris Layani Ratu Elizabeth Terakhir Kalinya

Pasukan militer Kerajaan Inggris melayani Ratu Elizabeth II untuk terakhir kali

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Raja Inggris Charles III, Pangeran William dari Inggris, Putri Anne dari Inggris, memberi hormat bersama Pangeran Andrew dari Inggris, ketika peti mati Ratu Elizabeth II, yang dihiasi dengan Standar Kerajaan dan Mahkota Negara Kekaisaran, dibawa ke Istana Westminster, mengikuti prosesi dari Istana Buckingham, di London, Rabu, 14 September 2022.
Foto: Ben Stansall/Pool via AP
Raja Inggris Charles III, Pangeran William dari Inggris, Putri Anne dari Inggris, memberi hormat bersama Pangeran Andrew dari Inggris, ketika peti mati Ratu Elizabeth II, yang dihiasi dengan Standar Kerajaan dan Mahkota Negara Kekaisaran, dibawa ke Istana Westminster, mengikuti prosesi dari Istana Buckingham, di London, Rabu, 14 September 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pasukan militer Kerajaan Inggris yang terlibat dalam prosesi persemayaman hingga pemakaman Ratu Elizabeth II telah bersiap sejak sang ratu meninggal dunia. Bahkan kuda-kuda dari Artileri Pasukan Kuda Kerajaan juga telah disiapkan secara matang dan dilatih secara khusus.

Pasukan militer kerajaan juga dilatih bagaimana menangani pelayat yang menangis, serta lemparan bunga dan bendera selama rangkaian prosesi. Mayor Jenderal Christopher Ghika, dari divisi Rumah Tangga Kerajaan mengatakan, ini adalah kesempatan terakhir para pasukan untuk melayani ratu. Ghika bertugas mengatur aspek seremonial pemakaman ratu.

"Ini kesempatan terakhir kami untuk melakukan tugas untuk ratu, dan ini adalah kesempatan pertama kami untuk melakukannya untuk raja, dan itu membuat kami semua sangat bangga," ujar Ghika.

Peti jenazah Ratu Elizabeth II meninggalkan Istana Buckingham untuk terakhir kalinya pada Rabu (14/9/2022). Peti jenazah ratu diangkut dengan kereta kuda dan diberikan penghormatan dengan tembakan meriam dan dentingan jam Big Ben, dalam prosesi khidmat. Kerumunan orang berjajar di jalan-jalan London untuk menyaksikan iring-iringan peti jenazah ratu yang dibawa ke Westminster Hall.  

Saat iring-iringan meninggalkan istana, putra Elizabeth, Raja Charles III beserta saudara-saudaranya dan kedua putranya berjalan di belakang peti mati. Mahkota ratu diletakkan di atas peti dan dialasi bantal beludru ungu.

Di Westminster Hall yang berusia 900 tahun, peti mati Elizabeth ditutupi dengan Royal Standard dan ditempatkan di atas panggung yang dikenal sebagai catafalque oleh delapan pengusung peti jenazah.

Mahkota Negara Kekaisaran yang bertatahkan hampir 3.000 berlian diletakkan di atas peti jenazah. Karangan bunga dan beberapa tanaman, termasuk pinus dari Balmoral Estate diletakkan di sekitar peti jenazah ratu.

Dua perwira dan 32 tentara dari Pengawal Grenadier Batalyon 1, dengan seragam merah dan topi kulit beruang berjalan di kedua sisi gerbong kereta dalam iring-iringan dari Istana Buckingham ke Westminster Hall.  Prosesi iring-iringan selama 38 menit ini berlangsung sangat khidmat. Uskup Agung Canterbury, Justin Welby memimpin kebaktian di Westminster Hall yang dihadiri oleh Charles dan bangsawan lainnya.

Setelah kebaktian singkat, kapten Pengawal Grenadier Batalyon 1 Kompi Ratu, dibantu oleh seorang sersan senior, meletakkan royal standar resimen di tangga catafalque. Kemudian empat petugas dari Kavaleri Rumah Tangga, bersama dua petugas dari Life Guard dan dua dari Royal Blues mulai menjaga setiap sudut peti jenazah dengan  menundukkan kepala.

Ribuan orang telah mengantre di sepanjang tepi Sungai Thames. Mereka menunggu selama berjam-jam untuk memasuki Westminster Hall, dan memberikan penghormatan terakhir kepada ratu. Seorang warga Kenya yang tinggal di Inggris, Esther Ravenor, merasa tersentuh saat menyaksikan prosesi tersebut.

 "Saya mencintai ratu, saya mencintai keluarga kerajaan, dan saya harus berada di sini. Dia adalah panutan sejati. Dia mencintai kita semua. Terutama seseorang seperti saya, seorang wanita migran yang datang ke Inggris 30 tahun yang lalu, saya diizinkan berada di sini dengan bebas dan aman, jadi saya sangat menghormatinya," kata Ravenor.

Bandara Heathrow untuk sementara menghentikan penerbangan. Pihak bandara telah memastikan keheningan di pusat kota London saat prosesi iring-iringan dari Istana Buckingham ke Westminster Hall.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement