Ahad 16 Oct 2022 13:50 WIB

Kongres Partai Komunis China Buka Jalan Perpanjang Masa Jabatan Xi Jinping

Xi Jinping akan menjadi politisi China yang paling kuat sejak Mao Zedong.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Konferensi Partai Komunis China membuka jalan bagi Presiden Xi Jinping untuk memperpanjang masa jabatan lima tahun mendatang. Langkah ini menjadikannya Xi sebagai politisi China yang paling kuat sejak Mao Zedong.
Foto:

Ketidakpastian politik China telah meningkat sejak Xi mengambil alih kekuasaan satu dekade lalu. Hal ini membuat para pengamat partai dibiarkan berspekulasi tentang siapa yang akan ditunjuk untuk jabatan-jabatan kunci dan apa arti penunjukan itu.  Namun diperkirakan selama masa jabatan ketiga, Xi akan fokus pada kebijakan yang memprioritaskan keamanan dan kemandirian. Termasuk kendali negara terhadap ekonomi, diplomasi yang lebih tegas dan militer yang lebih kuat, serta tekanan yang semakin besar untuk merebut Taiwan.

"Kemungkinannya adalah bahwa susunan pemain baru akan tanpa kompromi 'Xi-ist'," kata mantan diplomat Inggris, Charles Parton, seorang rekan di Council on Geostrategy yang berbasis di London.

Pengamat China paling tertarik untuk mengetahui siapa di antara anggota PSC yang akan ditunjuk sebagai perdana menteri berikutnya. Seorang perdana menteri mengemban pekerjaan berat untuk mengelola ekonomi terbesar kedua di dunia. Perdana Menteri Li Keqiang mundur pada Maret lalu. Hingga kini, China belum mengungkapkan kandidat pengganti Li.

"Ada semakin banyak bukti bahwa keputusan promosi selama beberapa tahun terakhir telah dibuat lebih sedikit pada kemampuan teknokratis, yang mungkin Anda harapkan dari para reformis, dan loyalis kepada Xi Jinping, jadi saya pikir kita harus benar-benar menghentikan ide reformis ini,"  kata Kepala Ekonom Asia di Capital Economics, Mark Williams.

Xi menawarkan optimisme dalam pidato pembukaan pada kongres tahun 2017. Ketika itu, Xi mengungkapkan rencana ambisius untuk mengubah China menjadi kekuatan global terkemuka pada 2050. Dia menyebutkan "reformasi" sebanyak 70 kali dalam pidato yang berlangsung hampir tiga setengah jam.  

Sejak itu, keadaan telah berubah secara dramatis. Ekonomi China terpukul oleh pembatasan Covid-19, krisis sektor properti, dan pukulan balik setelah tindakan keras Xi terhadap sektor teknologi di bawah panji "kemakmuran bersama".  

Secara global, hubungan Beijing dengan Barat telah memburuk secara tajam.  Investor dan warga China berharap kongres menandai tonggak sejarah. Terutama setelah negara itu menderita akibat pandemi virus corona.

Para analis mengatakan kongres tidak mungkin memicu perubahan langsung dalam kebijakan pemerintan. Terutama untuk menghidupkan kembali ekonomi yang tumbuh sekitar 3 persen tahun ini. Pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak sesuai dengan target resmi pemerintah yaitu sekitar 5,5 persen.

"Antara sekarang dan Maret 2023, kami memperkirakan tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, terutama pada strategi nol-Covid dan pembatasan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada sektor properti China," tulis analis Nomura.

sumber : Reuters / AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement