Senin 31 Oct 2022 16:57 WIB

Polisi Akui Gagal Antisipasi Korban dalam Tragedi Halloween Itaewon

Tragedi perayaan Halloween Itaewon menyebabkan 154 orang tewas.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Friska Yolandha
Korban meninggal insiden perayaan Halloween di distrik Itaewon, Seoul, 30 Oktober 2022. Menurut Choi Seong-beom selaku kepala pemadam kebakaran Yongsan Seoul, sedikitnya 151 orang tewas dan 82 lainnya luka-luka setelah berdesakan di daerah Itaewon, Seoul saat kerumunan besar masyarakat datang untuk merayakan Halloween.
Foto: EPA-EFE/JEON HEON-KYUN
Korban meninggal insiden perayaan Halloween di distrik Itaewon, Seoul, 30 Oktober 2022. Menurut Choi Seong-beom selaku kepala pemadam kebakaran Yongsan Seoul, sedikitnya 151 orang tewas dan 82 lainnya luka-luka setelah berdesakan di daerah Itaewon, Seoul saat kerumunan besar masyarakat datang untuk merayakan Halloween.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Polisi Korea Selatan menanggapi kritik yang beredar perihal kegagalan mereka dalam mencegah insiden perayaan Halloween yang terjadi di Itaewon, Seoul. Kepala Biro Manajemen Ketertiban Umum Badan Kepolisian Nasional Hong Ki-hyun mengakui pihaknya tidak memperkirakan insiden tersebut akan menelan jumlah korban yang besar.

“Kami memperkirakan banyak orang yang akan berkumpul di sana. Akan tetapi, kami tidak menyangka akan terjadi insiden yang menelan korban dalam skala besar,” kata Hong.

Baca Juga

Hong mencatat kerumunan dalam perayaan Halloween tahun ini mirip dengan beberapa tahun sebelumnya atau sedikit lebih besar. “Saya diberitahu bahwa petugas polisi di tempat kejadian tidak mendeteksi lonjakan massa yang tiba-tiba," kata Hong sambil mengungkapkan penyesalan atas prediksi mereka.

Dikutip kantor berita Yonhap, Senin (31/10/2022), tragedi perayaan Halloween Itaewon menyebabkan 154 orang tewas dalam kerumunan maut di gang sempit selebar 3,2 meter pada Sabtu malam. Hong menekankan pada malam kejadian, jumlah polisi yang dikerahkan lebih banyak, yaitu 137 polisi dibandingkan pada perayaan Halloween di tahun-tahun sebelumnya, yaitu 37 hingga 90 polisi sebelum Covid-19, mulai tahun 2017 hingga 2019.

Dia juga menyatakan tidak ada tindakan tersendiri terkait penertiban massa di gang sempit, tempat insiden berlangsung. Hong mengatakan tidak ada pedoman polisi untuk situasi di mana kerumunan besar berkumpul tanpa penyelenggara yang jelas, seperti perayaan Halloween Itaewon. Setelah insiden tersebut, polisi akan menambahkan sejumlah langkah untuk menentukan sejauh mana sektor publik akan campur tangan dalam acara yang menampung kerumunan besar.

Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol mengumumkan masa berkabung nasional yang berlaku mulai Ahad (30/10/2022) terkait insiden pesta Halloween di daerah Itaewon yang menewaskan sekitar 151 orang. Masa berkabung berlangsung hingga akhir penanganan tragedi Itaewon.

Yoon juga memerintahkan penurunan bendera setengah tiang. Yoon menyatakan belasungkawa kepada para korban dan berharap korban luka-luka segera pulih. "Ini benar-benar tragis. Tragedi dan bencana ini terjadi di jantung kota Seoul tadi malam," ujar Yoon.

Kerumunan orang dalam jumlah besar memadati distrik Itaewon yang populer pada Sabtu (29/10/2022) malam untuk merayakan Halloween. Jumlah orang yang membeludak membuat mereka saling berdesakan hingga menimbulkan korban.

"Ini benar-benar mengerikan. Bencana dan tragedi hari Sabtu seharusnya tidak pernah terjadi. Sebagai presiden, yang bertanggung jawab atas kehidupan dan keselamatan rakyat, hati saya berat dan saya berjuang untuk mengatasi kesedihan saya," kata Yoon dalam pidatonya di kantor kepresidenan Korsel, Ahad (30/10/2022).

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement