Ahad 27 Nov 2022 22:32 WIB

Aksi Protes Kebijakan Pengendalian Covid-19 di China Meluas

Demonstan berteriak menolak tes PCR.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Dwi Murdaningsih
 Seorang pria menjalani tes COVID-19 di kompleks barikade di Beijing, China, 26 November 2022. Menurut Komisi Kesehatan Nasional, China telah melaporkan 35.183 kasus COVID-19 baru pada 25 November, menjadikannya rekor tertinggi untuk ketiga kalinya berturut-turut. hari karena negara terus menahan wabah di beberapa kota seperti Guangzhou dan Chongqing di selatan.
Foto: EPA-EFE/MARK R.CRISTINO
Seorang pria menjalani tes COVID-19 di kompleks barikade di Beijing, China, 26 November 2022. Menurut Komisi Kesehatan Nasional, China telah melaporkan 35.183 kasus COVID-19 baru pada 25 November, menjadikannya rekor tertinggi untuk ketiga kalinya berturut-turut. hari karena negara terus menahan wabah di beberapa kota seperti Guangzhou dan Chongqing di selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Aksi protes terhadap kebijakan ketat nol Covid-19 di China kembali berlangsung di Shanghai dan Beijing pada Ahad (27/11/2022) sore. Aksi ini melanjutkan serangkaian protes yang telah menyebar ke seluruh negeri.

Polisi mulai memukul mundur orang-orang yang berkumpul di jalanan Shanghai. Pengunjuk rasa berteriak, “Kami tidak ingin tes PCR, kami ingin kebebasan!”.

 

Sejak Jumat (24/11/2022) orang-orang mengadakan protes di seluruh China. Kemarahan para pengunjuk rasa dipicu oleh kematian dari kebakaran di sebuah gedung apartemen di Urumqi. Publik meyakini kebakaran disebabkan oleh tindakan penguncian yang berlebihan sehingga penyelamatan menjadi tertunda.

 

Daftar crowdsourced di media sosial menunjukkan bahwa ada demonstrasi di 50 universitas.  Video yang diunggah di media sosial menunjukkan aksi protes di Nanjing, Guangzhou, Beijing, dan setidaknya lima kota lainnya.

 

Pengunjuk rasa berhadapan dengan polisi dengan pakaian pelindung diri. Para pengunjuk rasa juga membongkar barikade. Namun Associated Press tidak dapat memverifikasi video yang beredar secara independen.

 

Beberapa video yang paling banyak dibagikan berasal dari Shanghai. Kota ini mengalami penguncian sangat ketat pada musim semi. Warga setempat berjuang untuk mendapatkan bahan makanan dan obat-obatan. Mereka secara paksa dibawa ke karantina terpusat.

 

Pada Ahad dini hari, pengunjuk rasa berdiri di jalanan sekitar Urumqi sambil meneriakkan “(Presiden) Xi Jinping mundur! PKC (Partai Komunis Cina) mundur!". Seorang pengunjuk rasa mengkonfirmasi bahwa orang-orang berteriak menuntut mundurnya Xi Jinping. Tuntutan ini sebelumnya tidak pernah muncul dari masyarakat yang tinggal di salah satu kota terbesar China.

 

Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di sepanjang jalan di Shanghai mulai sekitar tengah malam pada Sabtu (26/11/2022). Mereka terbagi menjadi dua bagian berbeda di Jalan Urumqi Tengah. 

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement