Jumat 09 Dec 2022 12:21 WIB

Netanyahu Minta Perpanjangan Waktu untuk Bentuk Pemerintahan Israel

Tenggat waktu pembentukan pemerintahan seharusnya berakhir pada Ahad.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
Pemimpin Partai Likud Israel Benjamin Netanyahu membuat pernyataan setelah Presiden Israel Isaac Herzog menugaskannya untuk membentuk pemerintahan, di Yerusalem, Ahad, 13 November 2022. Netanyahu Netanyahu, meminta perpanjangan waktu selama dua pekan untuk membentuk pemerintahan.
Foto: AP Photo/ Maya Alleruzzo
Pemimpin Partai Likud Israel Benjamin Netanyahu membuat pernyataan setelah Presiden Israel Isaac Herzog menugaskannya untuk membentuk pemerintahan, di Yerusalem, Ahad, 13 November 2022. Netanyahu Netanyahu, meminta perpanjangan waktu selama dua pekan untuk membentuk pemerintahan.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana menteri baru Israel, Benjamin Netanyahu, meminta perpanjangan waktu selama dua pekan untuk membentuk pemerintahan. Tenggat waktu pembentukan pemerintahan seharusnya berakhir pada Ahad (11/12/2022) tengah malam.

"Kami berada di tengah-tengah negosiasi dan telah membuat banyak kemajuan. Namun dilihat dari kecepatannya, saya memerlukan perpanjangan hari yang disediakan oleh undang-undang untuk membentuk pemerintahan," kata Netanyahu dalam surat yang dirilis oleh kantornya, Kamis (8/12/2022), dikutip laman Al Arabiya.

Baca Juga

Secara hukum, presiden Israel, yang kini dijabat Isaac Herzog, dapat memberikan perpanjangan waktu hingga 14 hari untuk keperluan negosiasi. Partai Likud yang dipimpin Netanyahu telah menandatangani kesepakatan koalisi dengan tiga partai ekstrem kanan, yakni Religious Zionism, Jewish Power, dan Noam.

Pada Kamis pagi, Likud mengumumkan kesepakatan dengan partai keempat, yaitu Shas. Tapi kesepakatan dengan Shas dan blok ultra-Ortodoks lainnya, United Torah Judaism, bersifat sementara, bukan kesepakatan koalisi yang mengikat. “Masih ada masalah yang belum terselesaikan terkait alokasi posisi,” tulis Netanyahu dalam suratnya kepada Isaac Herzog, mencatat sifat prematur dari perjanjian Shas dan United Torah Judaism.

Sebelumnya beberapa analis politik memperkirakan Netanyahu tak akan memerlukan waktu lama untuk mengumumkan pemerintahan barunya setelah menerima mandat pembentukan dari presiden. Namun melihat situasi saat ini, pembicaraan koalisi terbukti rumit.

Netanyahu terpaksa memberikan portofolio sensitif kepada tokoh-tokoh kontroversial, termasuk pemimpin ekstremis dari Jewsih Power, Itamar Ben Gvir. Tokoh yang dikenal dengan retorika anti-Arab itu akan menjadi menteri keamanan nasional. Artinya Ben Gvir bakal bertanggung jawab atas polisi perbatasan di Tepi Barat yang diduduki. Penunjukannya sebagai menteri keamanan nasional Israel telah memicu kekhawatiran di antara kalangan masyarakat Palestina.

Sementara itu, alokasi portofolio Netanyahu untuk anggota partainya sendiri juga belum diselesaikan. Komplikasi lainnya adalah bahwa pemimpin partai Shas, Aryeh Deri, telah dihukum karena pelanggaran pajak. Menurut jaksa agung Israel, karena terbelit kasus tersebut, Deri dilarang bertugas di kabinet.

Parlemen Israel, di mana Netanyahu dan sekutunya sekarang mengendalikan mayoritas, mungkin berusaha untuk meloloskan undang-undang yang memungkinkan Deri bertugas di kabinet sebelum memperkuat kesepakatan koalisi. Di bawah perjanjian Shas-Likud sementara, Deri akan menjadi menteri dalam negeri dan menteri kesehatan di pemerintahan Netanyahu berikutnya. Dia pun ditunjuk sebagai wakil perdana menteri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement