Kamis 09 Feb 2023 09:25 WIB

Penyintas Gempa di Aleppo Cari Korban Hilang

Aleppo menjadi salah satu kota yang paling terdampak gempa

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
 Orang-orang mencoba mengidentifikasi jenazah korban gempa di luar rumah sakit, di Aleppo, Suriah, Senin (6/2/2023). Gempa kuat mengguncang wilayah luas Turki dan negara tetangga Suriah pada Senin, merobohkan ratusan bangunan serta menewaskan dan melukai ribuan orang. orang.
Foto: AP Photo/Omar Sanadiki
Orang-orang mencoba mengidentifikasi jenazah korban gempa di luar rumah sakit, di Aleppo, Suriah, Senin (6/2/2023). Gempa kuat mengguncang wilayah luas Turki dan negara tetangga Suriah pada Senin, merobohkan ratusan bangunan serta menewaskan dan melukai ribuan orang. orang.

REPUBLIKA.CO.ID, ALEPPO -- Setelah gempa merubuhkan gedung tempat keluarganya tinggi di Aleppo, Suriah, Youssef berhasil menghubungi kerabatnya yang terjebak di bawah puing-puing bangunan. Ia masih mendengar suaranya meski jaringan buruk.

Sejak itu pria 25 tahun tersebut berdiri di dekat puing-puing di tengah musim dingin yang membekukan. Tapi ia tidak bisa menghubungi kerabatnya itu lagi.

Baca Juga

"Saya masih menunggu kabar dari ayah saya, ibu saya, saudara laki-laki saya, saudara perempuan saya dan putranya, sampai saat ini tidak ada yang tahu mengenai mereka," katanya, Rabu (8/2/2023).

"Saya berbicara pada mereka dan saya mendengar suara mereka, tapi sayangnya seperti yang anda lihat, kerja mereka (tim penyelamat) sangat lambat dan mereka tidak memiliki cukup peralatan," katanya.

Di jalan, pria, wanita dan anak-anak membungkus tubuh mereka dengan selimut. Berkerumun di api unggun yang dinyalakan di trotoar. Banyak yang tidur di dalam mobil atau van yang di parkir dekat bekas rumah mereka, sebagian berbaring di jalanan yang dingin.

Aleppo yang pernah terkenal dengan pasar labirinnya, bangunan abad pertengahan, pemandian berkubah dan benteng kuno yang megah hancur oleh perang saudara yang berlangsung selama satu dekade lebih. Sebelum pemerintah merebut kembali kantong-kantong pemberontak pada tahun 2016.

Kini Aleppo menjadi salah satu kota yang paling terdampak gempa bermagnitudo 7,8 pada Senin lalu. Bencana itu menewaskan lebih dari 12 ribu orang di Turki dan Suriah.

Pemerintah setempat mengatakan setidaknya 390 orang meninggal dunia dan 750 lainnya terluka di Provinsi Aleppo. Lebih dari 50 bangunan ambruk.

Banyak bangunan di Aleppo yang sudah lemah akibat perang selama 12 tahun. Apartemen Youssef terletak di Bustan al-Basha, garis depan pertempuran selama perang saudara.

Gempa juga merusak kebanggaan kota itu, sebuah benteng kuno yang masuk daftar warisan budaya UNESCO. Benteng itu rusak selama perang saudara dan gempa mengurangi struktur bangunan yang tersisa.

Bagi warga Aleppo yang masih memulihkan kembali komunitas mereka usai perang saudara bertahun-tahun. Kini gempa menambah penderitaan mereka.

Di rumah sakit al Razi, Bakr yang berusia 27 tahun mengatakan ia satu dari tiga orang yang selamat saat gedung tempat tinggalnya ambruk. Orang tua, saudara laki-laki dan enam keponakannya meninggal dunia.

"Gedung ambruk di atas kami," katanya sambil berbaring di rumah sakit.

Tim penyelamat dari pihak pemerintah maupun pemberontak mengatakan perang telah menghabiskan sumber daya mereka. Kini mereka membutuhkan bantuan dan peralatan berat untuk memfasilitasi operasi pencarian dan penyelamatan.

Pemerintah Suriah sudah menerima bantuan dari negara-negara Arab termasuk Mesir dan Irak serta sekutu dekatnya Rusia. Moskow mengirimkan tim penyelamat dan mengerahkan pasukannya di Suriah untuk bergabung dalam proses penyelamatan di negara itu termasuk di Aleppo.

Tidak banyak bila ada bantuan ke daerah yang dikuasai pemberontak.

Baca juga : Erdogan Akan Bangun Kembali Daerah Terdampak Gempa Dalam Satu Tahun

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement