Jumat 17 Feb 2023 08:50 WIB

Kepala IFRC: Suriah Hadapi Konsekuensi Kesehatan

Korban selamat dari gempa sangat membutuhkan perumahan permanen.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Seorang penyelamat membawa bayi perempuan setelah menariknya dari puing-puing akibat gempa bumi yang melanda Suriah dan Turki di kota Jinderis, Suriah, Selasa, 7 Februari 2023. Suriah dapat menghadapi wabah penyakit yang berbahaya jika ratusan ribu orang terlantar tidak segera mendapatkan tempat tinggal permanen setelah gempa.
Foto: AP
Seorang penyelamat membawa bayi perempuan setelah menariknya dari puing-puing akibat gempa bumi yang melanda Suriah dan Turki di kota Jinderis, Suriah, Selasa, 7 Februari 2023. Suriah dapat menghadapi wabah penyakit yang berbahaya jika ratusan ribu orang terlantar tidak segera mendapatkan tempat tinggal permanen setelah gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Suriah dapat menghadapi wabah penyakit yang berbahaya jika ratusan ribu orang telantar tidak segera mendapatkan tempat tinggal permanen setelah gempa pekan lalu. Peringatan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) Jagan Chapagain pada Kamis (16/2/2023).

Chapagain mengatakan, keluarga yang tinggal di tempat penampungan darurat tanpa pemanas memadai sangat membutuhkan perumahan permanen. "Mereka masih hidup dalam kondisi yang sangat mendasar di ruang sekolah yang sangat, sangat dingin,” katanya.

Baca Juga

"Jika ini berlanjut untuk jangka waktu lama, maka akan ada konsekuensi kesehatan," ujarnya mengingatkan.

Chapagain berbicara setelah kembali dari Aleppo. Kota terbesar Suriah itu selama bertahun-tahun menyaksikan beberapa pertempuran terburuk dari perang saudara yang sedang berlangsung di negara itu.

Aleppo dilanda wabah kolera pada akhir 2022. Dampak gempa pada akses ke perumahan, air, bahan bakar, dan infrastruktur lainnya dapat membuat wabah lain mungkin terjadi. Chapagain juga menyoroti kemungkina, bencana alam tersebut juga telah merusak kesehatan mental warga Suriah.

“Jika konflik telah mematahkan punggung mereka, saya pikir gempa ini mematahkan semangat mereka sekarang,” kata Chapagain.

Gempa mematikan berkekuatan 7,8 yang mengguncang Turki dan Suriah lebih dari sepekan lalu menghancurkan bagian-bagian negara yang dilanda perang, baik di daerah kantong yang dikuasai pemberontak barat laut dan daerah terdekat yang dikuasai pemerintah. Diperkirakan 3.688 orang meninggal di kedua sisi garis depan di Suriah, sekitar 1.400 di antaranya di kota-kota yang dikuasai pemerintah.

Chapagain menyatakan, seluruh lingkungan Aleppo telah ditinggalkan, dengan beberapa penduduk memilih pindah ke daerah pedesaan setelah gempa. Banyak warga Suriah mengungsi untuk kedua kalinya setelah bencana alam, sudah meninggalkan rumah mereka untuk menghindari serangan udara dan penembakan.

Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) memperkirakan bahwa 5,3 juta warga Suriah di seluruh negara yang dilanda gempa bisa menjadi tunawisma jika tempat tinggal dan bantuan yang layak tidak tersedia. Dalam jangka panjang, Chapagain mengatakan, membangun kembali infrastruktur Suriah yang sudah lumpuh akibat perang, harus menjadi prioritas. Namun, perang saudara dan krisis ekonomi di Suriah membuat pemulihan cepat pascagempa menjadi lebih rumit.

IFRC telah mengumpulkan 216,8 juta dolar AS dan berharap dapat mendukung 2,4 juta orang di seluruh negeri selama dua tahun ke depan. Lusinan pesawat dan truk bermuatan bantuan kemanusiaan telah mencapai Suriah yang dikuasai pemerintah. PBB meminta 397 juta dolar AS untuk mendukung hampir lima juta orang di Suriah barat laut yang dikuasai pemberontak, hampir semuanya hidup dalam kemiskinan.

Selama tur di Aleppo, Chapagain mengatakan, bantuan yang menurun selama bertahun-tahun, kini datang dalam jumlah lebih besar. Seorang perempuan mengatakan kepadanya, dia telah menderita karena berkurangnya bantuan dalam beberapa tahun terakhir. "Namun dalam beberapa hal gempa ini membawa kembali bantuan kemanusiaan sehingga (dia) dapat makan lagi,” kenangnya.

Meski begitu, kesenjangan besar dalam barang-barang penting tetap ada. “Bahkan beberapa ambulans kesulitan mendapatkan bahan bakar, bahkan beberapa mobil kami sendiri kesulitan mendapatkan bahan bakar,” kata Chapagain.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement