Senin 20 Feb 2023 18:02 WIB

Korut Awasi Peningkatan Kehadiran Militer AS di Semenanjung Korea

Korut menembakkan sepasang rudal balistik jarak pendek di lepas pantai timurnya.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Dalam foto yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Korea Selatan ini, pesawat pengebom B-52 A.S., C-17 dan F-22 Angkatan Udara A.S. terbang di atas Semenanjung Korea selama latihan udara bersama di Korea Selatan, Selasa, 20 Desember 2022.
Foto: South Korean Defense Ministry via AP
Dalam foto yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Korea Selatan ini, pesawat pengebom B-52 A.S., C-17 dan F-22 Angkatan Udara A.S. terbang di atas Semenanjung Korea selama latihan udara bersama di Korea Selatan, Selasa, 20 Desember 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo-jong, pada Senin (20/2/2023) mengeluarkan peringatan terhadap peningkatan kehadiran AS di Semenanjung Korea. Dia mengatakan, Korea Utara secara berhati-hati menilai dampak kehadiran AS terhadap keamanan negara.

“Kami dengan hati-hati memeriksa pengaruhnya terhadap keamanan negara kami. Frekuensi penggunaan Pasifik sebagai jarak tembak kita bergantung pada pasukan AS," katanya dalam pernyataan berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh KCNA.  

Baca Juga

Kim Yo-jong menyebut AS sebagai 'maniak terburuk'. Dia mengancam akan mengambil perlawanan yang sesuai  sebagai tanggapan atas setiap langkah militer AS di masa depan.

Korea Utara telah menembakkan sepasang rudal balistik jarak pendek di lepas pantai timurnya. Media pemerintah Korea Utara, KCNA mengatakan, dua proyektil ditembakkan dari beberapa peluncur roket, dan mengarah ke target masing-masing sejauh 395 km dan 337 km.

“Peluncur roket ganda 600mm yang dimobilisasi dalam penembakan adalah sarana senjata nuklir taktis, yang mampu melumpuhkan lapangan terbang musuh," kata pernyataan KCNA, dilaporkan Aljazirah, Senin (20/2/2023). 

Pada Jumat (17/2/2023) Korea Utara menembakkan rudal balistik antarbenua Hwasong-15 di lepas pantai timurnya. Media pemerintah Korea Utara mengatakan, uji coba ICBM bertujuan untuk meningkatkan kapasitas serangan nuklirnya dan memverifikasi keandalan senjata, serta kesiapan tempur kekuatan nuklir negara tersebut.

Seorang sarjana dan profesor Korea Utara di Universitas Kookmin di Seoul, Andrei Lankov, mengatakan, dunia harus bersiap menghadapi Pyongyang yang akan melakukan lebih banyak uji coba nuklir dan rudal selama beberapa tahun mendatang. Korea Utara mencatat rekor jumlah peluncuran pada 2022.

“Anda harus ingat, jika mereka peduli untuk mempertahankan diri, mereka tidak membutuhkan nuklir taktis. Kekuatan nuklir mereka yang ada cukup besar untuk memberikan pencegahan yang benar-benar andal, jadi apa yang mereka lakukan sekarang adalah untuk operasi ofensif," kata Lankov kepada Aljazirah.  

Analis mengatakan, ketegangan cenderung berkobar saat Korea Selatan dan AS mempersiapkan lebih banyak latihan militer dalam beberapa minggu dan beberapa bulan mendatang. Latihan simulasi nuklir yang dikenal sebagai Deterrence Strategy Committee Tabletop Exercise, dijadwalkan berlangsung di Pentagon pada Rabu (22/2/2023). Sementara pelatihan lapangan Freedom Shield tahunan dijadwalkan pada Maret.

“Ketegangan di Semenanjung (Korea) kemungkinan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan mendatang karena Korea Utara mempercepat aksi militernya dengan frekuensi lebih tinggi dan pernyataannya (Kim Yo-jong) menunjukkan mereka akan melanjutkan uji coba rudal dadakan menggunakan Pasifik sebagai jangkauan menembaknya,” kata seorang profesor di Universitas Studi Korea Utara di Seoul, Yang Moo-jin.

Pyongyang menggambarkan latihan militer bersama AS-Korea Selatan sebagai latihan untuk invasi. Namun Washington dan Seoul menekankan bahwa mereka bersifat defensif.

Pada Ahad (19/2/2023) AS menerbangkan pesawat pengebom supersonik jarak jauh dalam latihan terpisah dengan pesawat tempur Korea Selatan dan Jepang untuk unjuk kekuatan melawan Korea Utara. Sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di Korea Selatan sebagai warisan Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai secara penuh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement