Senin 06 Mar 2023 18:08 WIB

Ikut Protes Netanyahu, 37 Pilot Angkatan Udara Israel Berhenti Terbang

Para pilot cadangan AU Israel menolak latihan terbang sebagai bagian dari protes

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Lusinan pilot yang tergabung dalam tentara cadangan angkatan udara (AU) Israel pada Ahad (5/3/2023) telah ikut berpartisipasi dalam aksi protes terhadap kebijakan Perdana Menteri (PM) Benyamin Netanyahu yang akan mengubah sistem peradilan hukum
Foto: AP/Martin Meissner
Lusinan pilot yang tergabung dalam tentara cadangan angkatan udara (AU) Israel pada Ahad (5/3/2023) telah ikut berpartisipasi dalam aksi protes terhadap kebijakan Perdana Menteri (PM) Benyamin Netanyahu yang akan mengubah sistem peradilan hukum

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Lusinan pilot yang tergabung dalam tentara cadangan angkatan udara (AU) Israel pada Ahad (5/3/2023) telah ikut berpartisipasi dalam aksi protes terhadap kebijakan Perdana Menteri (PM) Benyamin Netanyahu yang akan mengubah sistem peradilan hukum di negara Zionis tersebut. Para pilot cadangan AU Israel ini menolak melakukan latihan terbang sebagai bagian dari aksi protes tersebut.

Sebagai bagian strategis pertahanan Israel, angkatan udara secara rutin mengandalkan pasukan cadangan di masa perang. Angkatan Udara Israel membutuhkan lebih banyak pilot berpengalaman agar bisa mengganti pasukan. Oleh karena itu, mereka diminta untuk berlatih secara teratur guna menjaga kesiapan peperangan.

Baca Juga

Namun dalam sebuah surat yang beredar di media lokal, 37 pilot dan navigator dari skuadron F-15 mengatakan mereka tidak akan terbang, melewatkan latihan yang dijadwalkan pada Rabu dan sebagai gantinya mencurahkan waktu untuk berdialog dan refleksi demi demokrasi dan persatuan nasional.

Pemerintahan Netanyahu yang konservatif nasionalis-agama berusaha mengubah sistem peradilan untuk membatasi hakim di Mahkamah Agung, yang mereka tuduh melampaui batas. Kritikus khawatir bahwa Netanyahu, yang sempat diadili atas tuduhan korupsi, dan dia terus membantah, menginginkan kekuasaan yang berlebihan atas peradilan Israel.

Aksi demonstrasi mingguan di Israel, terus membesar dan semakin mendapat perhatian, setelah ribuan massa terus berkumpul selama dua bulan di negara Yahudi ini. Beberapa pemimpin oposisi dan intelektual ikut dalam aksi protes, di antaranya mantan kepala militer Israel, yang mengatakan bahwa pergantian pemerintahan yang tidak demokratis akan menjamin pembangkangan massal di setiap komponen masyarakat.

Setidaknya ada 37 Pilot cadangan angkatan udara Israel yang ikut memprotes Netanyahu, dan mereka mengatakan akan menangguhkan protes satu hari mereka jika diperlukan untuk melakukan operasi yang sebenarnya. Seorang juru bicara militer menolak untuk mengomentari surat mereka tetapi mengatakan komandan tinggi Letnan Jenderal Herzi Halevy menyadari wacana dan perpecahan publik ini.

Tetapi Halevy tidak akan membiarkan kemampuan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk menjalankan misi terpentingnya mempertahankan keamanan Israel terbengkalai. Para petugas telah diinstruksikan untuk berbicara dengan bawahan tentang masalah ini, kata pernyataan itu, yang juga menegaskan kembali pentingnya menjaga netralitas IDF.

Israel tidak mempublikasikan jumlah personel militer yang terlibat dalam protes ini, sehingga sulit untuk menilai dampak dari protes tersebut terhadap cadangan angkatan udara Israel. "Media Israel yang tidak bertanggung jawab ini mempermainkan setiap cadangan yang membuat semacam pernyataan," kata Menteri Keuangan Bezalel Smotrich kepada Channel 12 TV.

"Ada puluhan dan ratusan ribu yang akan terus mendaftar untuk militer dan bertugas di cadangan dan memahami bahwa kita adalah saudara dan memikul tanggung jawab atas keajaiban besar yang dilakukan oleh misi Zionis."

Benyamin Netanyahu, seorang mantan perwira di unit komando paling bergengsi di Israel, men-tweet foto dirinya pada usia wajib militer dengan tulisan, "Ketika dipanggil untuk tugas cadangan, kami selalu muncul. Kami adalah satu bangsa."

Sementara itu, N12 News Israel melaporkan bahwa El Al Israel Airlines, maskapai penerbangan militer Israel, kesulitan menemukan kru untuk menerbangkan Netanyahu dalam kunjungan kenegaraan ke Italia minggu ini, hal itu diduga karena boikot oleh pilot atas perubahan sistem yudisial tersebut.

Kantor Netanyahu tidak menanggapi permintaan komentar.

Maskapai militer Israel, El Al mengatakan tidak akan mendukung boikot tersebut, terutama terhadap perdana menteri Israel. Pihaknya menekankan bahwa penerbangan tersebut telah memiliki staf dan akan berangkat sesuai rencana.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement