Rabu 08 Mar 2023 19:48 WIB

Ukraina Desak Uni Eropa Dukung Rencana Pembelian Satu Juta Peluru Artileri

Pembelian peluru artileri ini untuk mengisi kembali persediaan persenjataan Ukraina

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Anggota Pusat Gabungan untuk Kontrol dan Koordinasi tentang gencatan senjata garis demarkasi, atau JCCC, mengamati kawah dari peluru artileri yang mendarat di dekat sebuah sekolah di Vrubivka, salah satu dari setidaknya delapan yang mendarat di desa hari ini, menurut penduduk setempat. pejabat, di wilayah Luhansk, Ukraina timur, Kamis, 17 Februari 2022.
Foto: AP/Vadim Ghirda
Anggota Pusat Gabungan untuk Kontrol dan Koordinasi tentang gencatan senjata garis demarkasi, atau JCCC, mengamati kawah dari peluru artileri yang mendarat di dekat sebuah sekolah di Vrubivka, salah satu dari setidaknya delapan yang mendarat di desa hari ini, menurut penduduk setempat. pejabat, di wilayah Luhansk, Ukraina timur, Kamis, 17 Februari 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov pada Rabu (8/3/2023) mendesak Uni Eropa mendukung rencana pembelian 1 juta peluru artileri untuk membantu Kiev melawan invasi Rusia. Pembelian peluru artileri ini bertujuan mengisi kembali persediaan persenjataan pasukan Ukraina.

Reznikov mengatakan, Ukraina sangat membutuhkan peluru untuk bertahan melawan pasukan Rusia dan melancarkan serangan balasan. Reznikov mengatakan, dia mendukung proposal Estonia bagi negara-negara Uni Eropa untuk bersatu membeli 1 juta peluru 155 milimeter untuk Ukraina tahun ini dengan biaya 4 miliar euro. Dia mengatakan, Ukraina menginginkan 90 ribu hingga 100 ribu peluru artileri per bulan. “Kita harus bergerak maju secepat mungkin,” kata Reznikov.

Baca Juga

Upaya pembelian amunisi bersama secara besar-besaran akan menjadi langkah penting bagi Uni Eropa. Karena pengadaan pertahanan sebagian besar berada di tangan masing-masing pemerintah anggota blok tersebut. Kendati ada dukungan luas di antara pemerintah dan lembaga Uni Eropa untuk proyek pengadaan bersama, mereka belum menyepakati bagaimana cara kerjanya, berapa biayanya, atau cara membayarnya.

Menteri Pertahanan Estonia Hanno Pevkur mengatakan, negara-negara Uni Eropa harus menyediakan dana ekstra untuk inisiatif tersebut, ketimbang menggunakan dana yang sudah dialokasikan untuk bantuan militer ke Ukraina. "Kami membutuhkan uang segar dan kami membutuhkannya dengan cepat," katanya.

Sebaliknya, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell telah mengusulkan sebuah rencana untuk menggunakan uang yang telah dialokasikan ke dana yang dikelola Uni Eropa, yaitu Fasilitas Perdamaian Eropa. Untuk mengatasi kebutuhan jangka pendek Kiev, Borrell telah mengusulkan penawaran tingkat penggantian yang lebih tinggi dari Fasilitas Perdamaian bagi negara-negara untuk mengirim amunisi dari stok mereka sendiri ke Ukraina, dengan perkiraan biaya 1 miliar euro.

Ditanya tentang seruan Estonia untuk mendapatkan uang baru, Borrell menjawab: "Uang tidak datang dari langit. Bukan karena satu negara anggota mengklaim bahwa kita perlu memiliki lebih banyak uang sehingga uang itu akan muncul dengan (sebuah) keajaiban," ujarnya.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan, diskusi tentang pengadaan anggaran bersama memang diperlukan. Tetapi tidak boleh mengalihkan perhatian dari fakta bahwa industri akan membutuhkan waktu untuk meningkatkan kapasitas dalam memenuhi permintaan yang lebih tinggi.

“Kita harus menghadapi kenyataan, hanya karena kita semua memesan lebih banyak bukan berarti ada lebih banyak amunisi. Itu harus diproduksi sebelum dapat dikirimkan,” kata Pistorius.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement