Kamis 09 Mar 2023 11:07 WIB

Direktur CIA: Masa Depan Intelijen Bergantung Perlombaan Teknologi dengan Cina

Intelijen AS merilis laporan tahunan yang menyatakan Cina negara paling mengancam.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Bendera Cina-Amerika
Foto: washingtonote
Bendera Cina-Amerika

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Direktur Pusat Badan Intelijen (CIA) Amerika Serikat (AS) Williams Burns mengatakan, masa depan lembaga itu bergantung pada perlombaan teknologi AS dengan Cina. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan dengan Senat.

Pernyataan Burns disampaikan usai Komunitas Intelijen AS merilis Asesmen Ancaman Tahunan, yang menyatakan Cina negara paling mengancam bagi AS. Laporan tersebut merujuk pada taktik siber Cina mengawasi warga Amerika, keberhasilannya mencuri kekayaan intelektual, dan kemampuannya mendapatkan teknologi asing.

Baca Juga

"Saya kira revolusi teknologi bukan hanya arena persaingan dengan Republik Rakyat Cina, tapi juga menentukan masa depan kami sebagai dinas intelijen," kata Burns, Rabu (8/3/2023).

Direktur CIA itu berbicara dalam sidang Kongres yang dinamakan Ancaman di Seluruh Dunia. Pertemuan itu juga dihadiri kepala komunitas intelijen AS lainnya yakni Direktur Badan Keamanan Nasional Jenderal Paul Nakasone, Direktur Intelijen Nasional Avril Haines, Direktur Badan Intelijen Pertahanan Letnan Jenderal Scott Berrier dan Direktur Biro Investigasi Federal Christopher Wray.

Para direktur dinas intelijen itu mengatakan Beijing menimbulkan berbagai ancaman pada kepentingan AS, termasuk menggunakan peretas.

Dalam laporannya, Komunitas Intelijenas mengatakan, Beijing khawatir akan terjadinya konflik besar dengan AS. "Hampir dapat dipastikan mereka akan mempertimbangkan menggelar operasi siber agresif terhadap infrastruktur vital di AS dan aset militernya di seluruh dunia."

"Serangan semacam itu akan dirancang untuk mencegah aksi militer AS dengan menghambat pengambilan keputusan AS, memicu kepanikan di masyarakat dan mengintervensi pengerahan pasukan AS," kata komunitas intelijen.

Laporan tersebut menekankan "ekspansi otoritarianisme" Cina ke seluruh dunia dengan menggunakan teknologi. Komunitas intelijen merujuk pada upaya agresif untuk mengendalikan dan memanipulasi arus konten di seluruh dunia.

Komunitas intelijen AS juga menegaskan "hampir pasti" Cina mampu menggelar serangan siber yang dapat menghentikan operasi layanan infrastruktur, termasuk pada pipa minyak dan gas serta sistem kereta.

Mengingat bagaimana aparatur Pemerintah Cina mengumpulkan data kesehatan masyarakatnya. Dinas-dinas intelijen AS menulis Cina telah mengumpulkan data kesehatan dan genomik  AS, melalui peretasan dan pembelian perusahaan-perusahaan AS.

Direktur Badan Keamanan Nasional Jenderal Paul Nakasone bersaksi operasi siber Cina tumbuh semakin agresif akhir-akhir ini.

"Sehubungan dengan Cina kami melihat meningkatnya tingkat resiko yang telah mereka lakukan sehubungan mencuri kekayaan intelektual kami, bahkan meningkatkan operasi pengaruh mereka, ini upaya berkaitan dengan kami," kata Nakasone.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement